Peringati Hari Santri, Bupati Dedi Canangkan Pemakaian Sarung Setiap Jumat

Peringati Hari Santri, Bupati Dedi Canangkan Pemakaian Sarung Setiap Jumat

Tri Ispranoto - detikNews
Sabtu, 22 Okt 2016 14:21 WIB
Peringati Hari Santri, Bupati Dedi Canangkan Pemakaian Sarung Setiap Jumat
Foto: Tri Ispranoto
Purwakarta - Mulai Jumat 29 Oktober, seluruh laki-laki pelajar dan pegawai pemerintahan di Kabupaten Purwakarta dianjurkan untuk memakai sarung dan kopiah selama berkegiatan di sekolah maupun di kantor.

Hal tersebut diungkapkan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, saat memberi sambutan pada acara Apel Akbar ke 2 Hari Santri Nasional 'Dari Pesantren Untuk Indonesia' yang digelar di Taman Pasanggrahan Padjajaran, Sabtu (22/10/2016).

Menurut Dedi, sarung dan kopiah berwarna hitam adalah identitas keislaman di Indonesia mulai dari sabang hingga merauke. Selain itu penggunaan itu pun sejalan dengan program pendidikan yang digulirkannya sejak periode pertama menjabat sekitar tahun 2008, yakni setiap Jumat para pelajar bertemakan Jumaah Nyucikeun Diri (Jumat Menyucikan Diri).
Bupati Dedi meminta seluruh laki-laki pelajar dan pegawai mengenakan sarung setiap hari Jumat.Foto: Tri Ispranoto
Bupati Dedi meminta seluruh laki-laki pelajar dan pegawai mengenakan sarung setiap hari Jumat.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sarungan itu khas Indonesia, khas Nusantara. Semua daerah punya sebutannya masing-masing, seperti di Sunda namanya samping atau sinjang. Semua memiliki kekhasannya sendiri-sendiri tapi kesamannya satu tetap sarungan. Maka sarung dalam hal ini simbol persatuan bangsa," jelas Dedi.

Sejak jaman dulu, kata Dedi, sarung telah digunakan sebagai simbol persatuan saat menghadapi para penjajah sehingga sarung pun sama dengan membangkitkan kembali nilai-nilai nasionalisme persatuan.

Dalam penggunaan sarung dan kopiah tersebut pihaknya tidak akan memberi batasan terutama soal kreasi, jenis maupun warna. Bahkan untuk kopiah pun bisa diganti menggunakan iket yang merupakan penutup khas kepala khas Sunda.
Untuk kaum perempuan, pakaian menyesuaikan.Foto: Tri Ispranoto
Untuk kaum perempuan, pakaian menyesuaikan.


"Untuk yang non muslim bisa menyesuaikan dengan menggunakan pakaian keagamaannya masing-masing, yang memiliki nilai spiritualitas dan nasionalisme. Bagi perempuan pun silakan menyesuaikan," katanya.

Lebih lanjut Dedi mengatakan, penggunaan sarung dan kopiah tersebut pun sejalan dengan program pembelajaran baca, tulis, dan kajian Alquran dan kitab keagamaan lainnya yang berlaku bagi seluruh pelajar di sekolah milik Pemkab Purwakarta mulai 1 Desember 2016 mendatang.

Sementara itu Rais Syuriah Pencab Nahdhatul Ulama Kabupaten Purwakarta, Abun Bunyamin, menyambut baik anjuran Bupati Dedi terkait penggunaan sarung dan kopiah. Menurutnya hal tersebut sejalan dengan spirit para santri dalam Hari Santri Nasional mengenai Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari saat mempertahankan Indonesia dari rongrongan penjajah.
Sarungan dijadikan simbol persatuan.Foto: Tri Ispranoto
Sarungan dijadikan simbol persatuan.


"Kalau generasi dulu berjuang melawan kolonialisme. Hari ini saatnya para santri berdikari melawan penjajahan ekonomi, hingga budaya dengan mempererat persatuan dan kepemimpinan. Santri bukan hanya pemimpin bagi dirinya, tetapi pemimpin bagi masyarakat," ujar pria yang juga Ketua MUI Kabupaten Purwakarta itu.

Sejak dipimpin oleh Bupati Dedi, setiap Hari Jumat para pelajar di Kabupaten Purwakarta mengenakan pakaian seragam sekolah berupa pangsi atau kampret bagi laki-laki dan kebaya samping jangkung bagi perempuan. Sementara para pegawai di lingkungan Pemkab Purwakarta menggunakan pakaian dan celana bebas namun tetap rapi.

(aan/aan)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads