Hal tersebut diungkapkan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, saat memberi sambutan pada acara Apel Akbar ke 2 Hari Santri Nasional 'Dari Pesantren Untuk Indonesia' yang digelar di Taman Pasanggrahan Padjajaran, Sabtu (22/10/2016).
Menurut Dedi, sarung dan kopiah berwarna hitam adalah identitas keislaman di Indonesia mulai dari sabang hingga merauke. Selain itu penggunaan itu pun sejalan dengan program pendidikan yang digulirkannya sejak periode pertama menjabat sekitar tahun 2008, yakni setiap Jumat para pelajar bertemakan Jumaah Nyucikeun Diri (Jumat Menyucikan Diri).
Foto: Tri IspranotoBupati Dedi meminta seluruh laki-laki pelajar dan pegawai mengenakan sarung setiap hari Jumat. |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak jaman dulu, kata Dedi, sarung telah digunakan sebagai simbol persatuan saat menghadapi para penjajah sehingga sarung pun sama dengan membangkitkan kembali nilai-nilai nasionalisme persatuan.
Dalam penggunaan sarung dan kopiah tersebut pihaknya tidak akan memberi batasan terutama soal kreasi, jenis maupun warna. Bahkan untuk kopiah pun bisa diganti menggunakan iket yang merupakan penutup khas kepala khas Sunda.
Foto: Tri IspranotoUntuk kaum perempuan, pakaian menyesuaikan. |
"Untuk yang non muslim bisa menyesuaikan dengan menggunakan pakaian keagamaannya masing-masing, yang memiliki nilai spiritualitas dan nasionalisme. Bagi perempuan pun silakan menyesuaikan," katanya.
Lebih lanjut Dedi mengatakan, penggunaan sarung dan kopiah tersebut pun sejalan dengan program pembelajaran baca, tulis, dan kajian Alquran dan kitab keagamaan lainnya yang berlaku bagi seluruh pelajar di sekolah milik Pemkab Purwakarta mulai 1 Desember 2016 mendatang.
Sementara itu Rais Syuriah Pencab Nahdhatul Ulama Kabupaten Purwakarta, Abun Bunyamin, menyambut baik anjuran Bupati Dedi terkait penggunaan sarung dan kopiah. Menurutnya hal tersebut sejalan dengan spirit para santri dalam Hari Santri Nasional mengenai Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari saat mempertahankan Indonesia dari rongrongan penjajah.
Foto: Tri IspranotoSarungan dijadikan simbol persatuan. |
"Kalau generasi dulu berjuang melawan kolonialisme. Hari ini saatnya para santri berdikari melawan penjajahan ekonomi, hingga budaya dengan mempererat persatuan dan kepemimpinan. Santri bukan hanya pemimpin bagi dirinya, tetapi pemimpin bagi masyarakat," ujar pria yang juga Ketua MUI Kabupaten Purwakarta itu.
Sejak dipimpin oleh Bupati Dedi, setiap Hari Jumat para pelajar di Kabupaten Purwakarta mengenakan pakaian seragam sekolah berupa pangsi atau kampret bagi laki-laki dan kebaya samping jangkung bagi perempuan. Sementara para pegawai di lingkungan Pemkab Purwakarta menggunakan pakaian dan celana bebas namun tetap rapi.
(aan/aan)












































Foto: Tri Ispranoto
Foto: Tri Ispranoto
Foto: Tri Ispranoto