Terletak tidak jauh dari Kota Palu, Kecamatan Ulujadi, Desa Salena menjadi tempat tinggal anak-anak dari suku Kaili Unde. Secara geografis desa itu berada di lereng pegunungan dan untuk ke lokasi tersebut tidaklah mudah.
Lokasi sebenarnya dapat dilalui menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Namun rute tersebut agak berbahaya karena jalanannya yang terjal penuh batu sisa hasil tambang yang berserakan di jalanan serta harus mendaki aspal yang rusak.
Guru Honorer tengah mengajari anak-anak Suku Kaili Unde (Foto: Dok. Olagondronk, Yayasan Masangu Maroso)SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT |
Belasan anak dengan wajah ceria telah menunggu Iis bersama keempat temannya yang juga guru honorer. Ino, begitulah cara anak-anak suku Kaili Unde menyapa mereka.
Anak-anak suku Kaili Unde tengah belajar (Foto: Dok. Olagondronk, Yayasan Masangu Maroso) |
Meski terdapat sebuah sekolah formal, lanjut Iis, namun hanya sedikit dari anak-anak itu yang datang untuk belajar. Mereka memilih ikut dengan orang tuanya yang bekerja sebagai penambang batu.
"Waktu itu saya sempat bertanya kepada salah satu ibu dan mereka bilang dengan bahasa daerah 'Tidak usah anak saya sekolah, biar mereka seperti saya'," kata Iis menirukan ucapan ibu tersebut.
Anak-anak suku Kaili Unde tengah diajari guru (Foto: Dok. Olagondronk, Yayasan Masangu Maroso) |
Iis sendiri mengaku bahagia meski ilmu yang diberikan kepada anak-anak suku Kaili Unde tidak dapat imbalan uang sepeser pun. Baginya melihat anak-anak itu kembali semangat untuk sekolah dan belajar adalah anugerah bagi guru.
"Sekarang mereka sudah punya semangat untuk sekolah. Uang bukan segala-galanya dengan keterbatasan, saya hanya bisa berikan ilmu bagi mereka," tuturnya.
Guru Honorer tengah mengajari anak-anak Suku Kaili Unde (Foto: Dok. Olagondronk, Yayasan Masangu Maroso) |
Sementara Popy Pusadan, Ketua Divisi Perempuan dan Anak di Yayasan Masangu Maroso, selaku pencetus sekolah Alam Salena menceritakan, bukan hal yang mudah untuk bisa sosialisasi dengan suku tersebut. Namun jerih payah dan keringat yang keluar berhasil meluluhkan hati orang tua dan pemuka adat setempat.
"Awalnya memang susah, namun kami bersyukur ketika bertemu dengan RW setempat yang juga memiliki pemikiran sama dengan kami bahwa pendidikan itu sangat penting, kami pun akhirnya dibantu. Kemudian kami bisa masuk setelah mendapat ijin dari kepala suku adatnya," papar Popy.
Popy mengatakan, tercetusnya ide sekolah alam melihat kondisi desa yang terletak di tengah pengunungan. Kini sekolah alam Salena telah berjalan selama delapan bulan.
"Di sekolah alam kami menggunakan metode belajar sambil bermain, itu karena awalnya mereka sangat susah untuk diajak belajar, tetapi melalui pendekatan, mereka sudah mau, Sekarang anak-anak sudah punya motivasi untuk belajar, kami juga tengah mengusahakan agar mereka mau untuk belajar di sekolah formal," imbuhnya.
Secara terpisah Dirjen Paud dan Dikmas Kemendikbud Harris Iskandar mengatakan, anak-anak putus sekolah seperti di Desa Salena punya hak atas Kartu Indonesia Pintar (KIP) non formal. Pihaknya juga mengharapkan agar data-data anak itu dapat dikirim ke pusat.
"Pada dasarnya KIP non formal juga menjaring mereka yang putus sekolah seperti di sekolah alam Salena, selama mereka memenuhi syarat yaitu usia dari 6 sampai 21 tahun. Kami berharap dengan adanya KIP ini, motivasi mereka untuk sekolah kembali bangkit," pungkas Harris.
(edo/rni)












































Guru Honorer tengah mengajari anak-anak Suku Kaili Unde (Foto: Dok. Olagondronk, Yayasan Masangu Maroso)
Anak-anak suku Kaili Unde tengah belajar (Foto: Dok. Olagondronk, Yayasan Masangu Maroso)
Anak-anak suku Kaili Unde tengah diajari guru (Foto: Dok. Olagondronk, Yayasan Masangu Maroso)
Guru Honorer tengah mengajari anak-anak Suku Kaili Unde (Foto: Dok. Olagondronk, Yayasan Masangu Maroso)