"Dari jajaran kita sudah kita warning terus, sudah beberapa kali (kejadian) kan, jadi di halaman di Polres di Solo, di Poslantas Thamrin, tidak kurang-kurang," kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (21/10/2016).
"Kewaspadaan itu pasti. Rekan-rekan juga melihat kita memperketat kegiatan pengamanan di kantor-kantor kita," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berbeda dengan bentuk (kejahatan) lain, kalau ada polisi mungkin (pelaku) menghindar lari. Tapi kalau ini tidak. Jadi di mana pun polisinya pasti akan jadi target. Dan kepolisian tentunya juga sudah memahami kondisi tersebut," ujar dia.
Dengan kondisi seperti ini, kata Boy, yang bisa dilakukan adalah meminimalisir risiko ancaman di lapangan. Polri memperkirakan ancaman-ancaman tidak berhenti di kejadian Tangerang saja.
"Tapi tentu kita juga sudah ingatkan jajaran kita, dan kita juga enggak mungkin melayani masyarakat dengan sikap yang paranoid, tidak mungkin," ucap Boy.
"Pelayanan masyarakat ya pelayanan masyarakat. Risiko yang ada mau tidak mau harus dihadapi dengan meminimalisir risiko. Jadi masyarakat tetap normal, melakukan aktivitas seperti biasa, tidak perlu khawatir," tuturnya.
Boy menegaskan, pihaknya akan terus mendeteksi dan mengantisipasi aksi kelompok radikal. Yang terpenting, katanya, semua elemen bersama membangun sebuah kekuatan agar potensi tindakan-tindakan mengarah teror ini bisa dieliminir.
"Mari kita tambahkan kepekaan kita terhadap orang-orang yang mulai terpengaruh tergabung dalam pemikiran kelompok seperti ini," ungkap Boy.
Menurut Boy, aksi Sultan Aziansyah merupakan contoh nyata ada anak muda Indonesia yang terpengaruh oleh kelompok-kelompok tersebut.
"Mungkin ini bukanlah yang terakhir, bisa saja masih ada yang lain yang sedang merencanakan kegiatan kita tidak tahu tapi mari kita cari tahu," tandasnya. (idh/elz)











































