Agus yang datang sekitar pukul 14.30 WIB dengan menggunakan kemeja putih langsung disambut oleh Koordinator Bajra, Renanda Bachtar. Saat sambutannya di depan Agus, Renanda mengatakan bahwa dukungan pada Agus-Sylvi didasarkan pada keprihatinan mendalam dari kaum nasionalis marhaenis, yang menjadi dasar Bajra, atas kepemimpinan calon petahana, Basuki Tjahja Purnama (Ahok) yang tidak berpihak pada rakyat kecil.
Foto: Bisma Alief/detikcomAgus Yudhoyono di deklarasi BAJRA |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita berkesimpulan dari semua kontestan, kita melihat sikap dan karakter marhaenis ada di Mas Agus," lanjutnya.
Nama Bajra sendiri diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti luar biasa dan sakti. Bajra juga bisa berarti genta. Sehingga mereka yakin suara Bajra akan bergema dan berkumandang untuk mengajak para marhaenis bersatu memenangkan Agus-Sylvi.
"Kita sudah indentifikasi bahwa jumlah marhaenis di Jakarta sangat besar. Kami siap menyumbang 300 ribu hingga 350 ribu suara untuk Agus-Sylvi," ucap Renanda.
Agus yang datang tanpa didampingi istrinya, Anissa Pohan, di depan puluhan anggota Bajra mengatakan bahwa bila dirinya terpilih sebagai Gubernur DKI akan membangun Jakarta sesuai dengan apa yang menjadi pokok pikira Soekarno. Pokok pikiran yang dimaksud oleh Agus adalah membangun dan menumbuhkan Jakarta bukan hanya badan (infrasturktur) tapi juga karakter masyarakatnya.
"Pada kesempatan ini saya yakinkan bahwa Indonesia, khususnya Jakarta, butuh perubahan ke arah lebih baik dan berpihak pad rakyat. Pokok pikiran dari Bung Karno yang mau Jakarta yang tumbuh bukan hanya badan tapi juga jiwa pada karakter manusia. Itu yang mengerakkan saya untuk masuk pada Pilgub (DKI Jakarta)," tutur Agus.
"Pembangunan harus berkearifan dan manusiawi. Kota tumbuh dan berkembang karena manusianya," lanjutnya.
Foto: Bisma Alief/detikcomAgus Yudhoyono di deklarasi BAJRA |
Sebagai bentuk resminya dukungan yang diberikan oleh Bajra kepada pasangan Agus-Sylvi, Renanda memberikan kemeja Bajra berwarna merah dan putih serta sebuah buku tentang Soekarno.
(bis/imk)












































Foto: Bisma Alief/detikcom
Foto: Bisma Alief/detikcom