Kepala BNPT: Target Teroris Bisa Siapa Saja, Tapi Polisi Paling Terbuka

Kepala BNPT: Target Teroris Bisa Siapa Saja, Tapi Polisi Paling Terbuka

Muchus Budi R. - detikNews
Jumat, 21 Okt 2016 15:04 WIB
Kepala BNPT: Target Teroris Bisa Siapa Saja, Tapi Polisi Paling Terbuka
Foto: Muchus Budi R/detikcom
Solo - Kepala BNPT, Komjen Suhardi Alius, mengingatkan bahwa target serangan aksi-aksi terorisme bisa siapa saja yang dianggap berseberangan. Namun polisi adalah aparat yang paling rentan menjadi sasaran. Karenanya dia berpesan agar polisi lebih berhati-hati dan dilengkapi peralatan perlindungan keamanan.

"Targetnya bukan polisi saja. Bisa pemerintah atau pejabat pemerintah, pokoknya yang berseberangan akan dianggap musuh. Selama ini memang yang paling aktif polisi dan memang bertugas terbuka sehingga mudah bagi mereka untuk menjamah. Ke depan memang Kapolda dan jajarannya kami pesankan lebih waspada dan melengkapi anggotanya agar lebih aman menghadapi situasi seperti ini," kata Suhardi kepada wartawan di Sukoharjo, Jumat (21/10/2016).

Suhardi juga mengatakan hingga saat ini belum bisa diambil kesimpulan apakah Sultan Aziansyah,pelaku serangan tunggal terhadap polisi di Tangerang, merupakan anggota jaringan dari kelompok ideologis tertentu. Meskipun sejauh ini dari pemeriksaan kemungkinan bahwa Sultan merupakan pelaku dari kategori alone wolf (pemain tunggal), namun Polri dan BNPT masih akan terus mendalami kemungkinan kaitan dengan jaringan tertentu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang bersangkutan memang membawa stiker mirip simbol ISIS. Dari pendalaman Polri dan BNPT juga diketahui ada pengaruh dari pemikiran sana (ISIS). Tapi kita belum bisa memastikan ini alone wolf atau ada jaringan. Kalau yang paling mengemuka saat ini, dia mendapatkan informasi mengenai pemikiran itu dari sosial media. Bom rakitan itupun dia belajar otodidak, download dari sosial media," lanjutnya.

Karena itulah Suhardi berharap kepada seluruh warga masyarakat untuk lebih peduli. Segera melaporkan jika melihat ada keluarga atau orang dekat yang mulai menampakkan perubahan sikap. Hal tersebut terutama pada remaja usia 15 tahun hingga usia 30 tahun ketika sedang masa proses pencarian diri sehingga mudah menelan informasi sepihak yang bisa menjerumuskan.

"Radikalisme itu soal mindset. Radikalisme bisa datang kepada siapapun tanpa perlu mengetuk pintu rumah. Bisa menyasar siapa saja, keluarga siapa saja. Survei dan fakta menunjukkan saat ini dari usia dini hingga pendidikan tinggi sudah terpapar pemikiran radikalisme. Tolong kita semua waspada dan peduli dengan lingkungan. Kalau ada yang mulai tertutup dan terus-menerus bersama internet, segera laporkan," tegasnya. (mbr/Hbb)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads