Pembahasan dan evaluasi perjalanan dua tahun kepemimpinan Jokowi – JK telah membuat media Indonesia sejak kemarin hingar bingar. Pujian maupun kritik dilontarkan banyak pihak. Sang presiden pun tidak sungkan-sungkan untuk melakukan wawancara langsung untuk disimak seluruh warga. Sudut pandang bahasan juga sangat beragam, mulai soal konsolidasi politik, HAM, pertumbuhan ekonomi, infrastruktur hingga masalah sosial lainnya. Nawacita sering dijadikan pijakan dalam memberikan nilai rapor kabinet yang berjalan belum setengah jalan ini.
Meski tidak segencar di media nasional, negeri ginseng merupakan salah satu negara yang peduli terhadap perkembangan Indonesia. Maklumlah, selain memiliki sejarah yang hampir mirip, saat ini hubungan keduanya boleh dibilang sangat mesra. Investasi Korea di Indonesia terus melangit sementara WNI di Korea relatif besar, kisaran 40 ribu orang. Kunjungan Presiden Jokowi ke Korsel Mei lalu juga memberikan gambaran bahwa kedua bangsa memiliki semangat yang tinggi untuk saling mengisi dalam berbagai sisi kehidupan internasional.
Foto: M Aji Surya/detikcom |
Tidak heran bila Kukmin, salah satu media terbesar di Korea membuat analisa dua tahun perjalanan presiden Jokowi. Tidak main-main, Kukmin mengangkat judul yang kira-kira artinya: Kepemimpinan Jokowi melesat karena anti korupsi dan pro dunia usaha. Menurut penilaiannya, pelan namun meyakinkan, Jokonomics mulai membuahkan hasil yang menggembirakan. Itulah yang menyebabkan kepercayaan publik terhadap Pemerintah mengalami peningkatan hingga angka 66,5 persen.
Disebutkan, popularitas Jokowi mulai terpancar setelah bertindak tegas terhadap kapal-kapal asing pencuri ikan di perairan Nusantara. Konsistensi kebijakan ini mendapatkan nilai plus walaupun terdapat tekanan yang tidak pernah berhenti. Bahkan untuk menegaskan kedaulatan NKRI, sang presiden tidak jarang hadir di wilayah terluar Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi juga dinilai positif dimana dalam kuartal kedua tahun ini naik 5,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selain saham yang mulai membaik (13%), nilai tukar rupiah terhadap dolar juga mengalami perbaikan kisaran 5%. Di sisi lain, infrastruktur yang dijanjikan selama ini terlihat jelas pembangunannya di berbagai wilayah Indonesia. Hal yang masih dianggap menjadi tantangan adalah soal pembangkit tenaga listrik, kereta cepat dan kehadiran investasi asing yang lebih besar.
Meskipun masih banyak PR, langkah-langkah Jokowi dalam memberantas korupsi dianggap relatif menohok. Disebutkan, terdapat 9 menteri, 19 gubernur, 300 pejabat tinggi di Pemerintahan Daerah serta 100-an anggota parlemen harus tidur di hotel prodeo. Dalam bidang hukum, lolosnya aturan pengebirian terhadap pelaku kejahatan seksual menandai perlindungan nyata bagi anak-anak.
Foto: M Aji Surya/detikcom |
Penilaian dari harian terkemuka di Korea tersebut bisa jadi dianggap tidak detail oleh sebagian kelompok di Indonesia. Namun yang juga jelas, itulah kesan pihak lain terhadap apa yang terjadi di Indonesia melalui kacamatanya. Kadangkala melihat diri sendiri menjadi sulit karena subyektifitas yang tinggi sehingga penilaian pihak lain dapat memberikan perspektif lain.
Dalam pemahaman saya pribadi, budaya Korea yang disebut "pali-pali" atau "cepat-cepat" menuntut segala sesuatu berjalan cepat agar tetap kompetitif. Dalam kondisi serba cepat itulah, ditolerir adanya kesalahan-kesalahan kecil disana-sini yang kemudian diperbaiki di sisa waktu yang ada. Budaya "pali-pali" bukan budaya perfeksionis yang membutuhkan waktu lebih lama. "Pali-pali" pastinya juga bukan budaya "alon-alon waton kelakon".
Dengan demikian, walaupun mengapresiasi capaian signifikan selama dua tahun Indonesia di bawah Jokowi, namun secara tersirat, Korea berharap adanya perbaikan dan pembenahan atas kekurangan yang ada sambil terus berlari mengejar target yang belum tersentuh. Dengan modal 66,5 persen kepercayaan publik, Kabinet Jokowi – JK mestinya bisa tampil menyelesaikan PR Nawacitanya di tiga tahun yang tersisa. Semoga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT











































Foto: M Aji Surya/detikcom
Foto: M Aji Surya/detikcom