Hal ini diungkapkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD Jawa Tengah Sarwa Pramana. Menurutnya, Gubernur Jateng sudah mengeluarkan surat edaran kepada Kabupaten/ Wali Kota untuk waspada bencana.
"Apel pagi ini untuk melaksanakan perintah Gubernur untuk Kabupaten/Kota melakukan langkah antisipasi bencana. Akan siaga sampai Maret," kata Sarwa saat gelar apel siaga bencana di Balai kota Semarang, Jumat (21/10/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semarang termasuk rawan, banjir dan longsor. Pertama kali ada korban itu di bukitsari, saya kaget juga. Kalau Jateng secara umum, banjir dan longsor. Longsor paling berat di Banjarnegara, Kebumen, Wonosobo, Karanganyar, tiap hari ada longsor kecil-kecil di sana. Di Punggelan (Banjarnegara) saja kita relokasi 77 KK, Alhamdulillah tidak ada korban," terang Sarwa.
Sementara itu Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan sejak Januari 2016 hingga Oktober ini tercatat ada 27 kali bencana banjir, 38 kali tanah longsor, sekali puting beliung, 10 kali rumah roboh, dan kebakaran 36 kali. Selain itu juga ada beberapa kali pohon tumbang.
"Awal tahun 2016 sampai Oktober ada beberapa kejadian yang tercatat di Semarang, banjir, tanah longsor, kebakaran, dan lain-lain. Tapi yang lebih harus diperhatikan dari beberapa akumulasi itu ada korban jiwa yaitu tanah longsor di Bukitsari dan warga kejatuhan pohon, dan yang terseret arus deras aliran waduk Jatibarang," terang Hendi.
Selain langkah-langkah langsung dari stake holder terkait untuk mencegah bencana, dilakukan juga edukasi kepada masyarakat agar turut melakukan antisipasi.
"Kita tidak bisa sendirian, harus merangkul semua untuk edukasi masyarakat terutama yang tinggal di tebing dan bantaran sungai, atau pesisir," kata Hendrar.
(alg/fdn)











































