AS Abaikan Tuntutan Korut Soal Dialog Nuklir
Sabtu, 02 Apr 2005 12:45 WIB
Jakarta - Pemerintah Korea Utara (Korut) mengajukan syarat-syarat untuk memulai kembali pembicaraan multilateral guna menyelesaikan krisis nuklirnya. Namun Amerika Serikat mengesampingkan tuntutan-tuntutan Korut tersebut.Washington mendesak negeri komunis itu untuk kembali ke meja perundingan. Desakan itu disampaikan Duta Besar (Dubes) AS untuk Korea Selatan (Korsel), Christopher Hill, seperti dilansir kantor berita Associated Press, Sabtu (2/4/2005).Pada Kamis (31/3/2005) lalu, seorang pejabat tinggi Korut kembali menuntut permintaan maaf dari AS karena telah menyebut negara itu sebagai "pelopor tirani". Komentar itu dilontarkan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Condoleezza Rice beberapa waktu lalu.Rice telah menolak untuk minta maaf. Namun selama kunjungannya ke Asia bulan lalu, petinggi Washington itu menyebut Korut sebagai negara yang "berdaulat" -- sebuah komentar yang oleh para pengamat dipandang sebagai upaya untuk memperlunak statemen terdahulunya.Pejabat Korut itu menegaskan, dialog enam negara soal nuklir Korut tidak akan digelar sebelum Washington meminta maaf atas statemen tersebut. Korut juga menuntut untuk diperlakukan sama dalam pembicaraan multilateral karena negara itu telah mengaku memiliki senjata nuklir.Namun menurut Hill, pernyataan-pernyataan Korut itu tidak berguna. "Masalah serius seharusnya tidak ditangani dengan statemen-statemen yang sarkastik," cetus Hill yang telah ditunjuk sebagai Wakil Menlu AS untuk urusan Asia Timur dan Pasifik.Hill menyerukan Korut untuk "menghentikan pengumuman-pengumuman pers yang bodoh ini. Menurut Hill, pemerintah Pyongyang hendaknya memusatkan perhatian mereka pada negosiasi enam negara mengenai nuklirnya.
(ita/)











































