Menurut Adi Nugroho (25) yang merupakan mandor proyek mengatakan jika pada Kamis (20/10/2016) sekitar pukul 13.00 WIB para pekerja mulai bekerja menggali untuk pemasangan beegisting. Namun sekitar 13.45 WIB tiba-tiba tanah mengalami longsor yang duduga akibat intensitas kereta dan alat berat yang melintas diatasnya.
"Longsor diduga karena seringnya kereta lewat (getaran kereta dan juga karena alat berat/eskavator) hingga menimpa Sudadi yang ada dibawahnya," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah berhasil diangkat dari lokasi longsor, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia," ujarnya.
Sementara itu Humas Daop V Purwokerto Ixfan Hendriwintoko mengatakan, jika pekerja dalam proyek double track murni merupakan pekerja dari Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Satuan Kerja (Satker) Cirebon-Kroya (Cikro). Sedangkan kecelakaan kerja yang mengakibatkan seorang pekerja meninggal bukan diakibatkan getaran kereta, melainkan SOP kerja dimana kondisi cuaca, pola pengawasan yang perlu diantisipasi.
"Seperti yang dilakukan Daop V Purwokerto pada musim hujan, di mana intensitas pengawasan dan upaya penanganan secara ekstra telah dilakukan di beberapa titik rawan. Hendaknya Satker Cikro melakukan hal yang sama," tuturnya.
(khf/khf)











































