Awalnya, temuan di tanah milik Sarwoto itu merupakan fondasi. Ternyata situs candi dan yoni. Berdasarkan penilaian Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN), situs itu diperkirakan candi Hindu Mataram Kuno abad 9 hingga 10 Masehi.
"Temuan itu terlihat setelah terjadi longsor," kata Kepala Desa Lemah Abang, Karnoto, Kamis (20/10/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Robby Bernardi/detikcom |
Lokasi temuan memang berupa gundukan berukuran 6x6 meter. Beberapa tahun silam terjadi longsor. Pelan-pelan, bentuk batu purbakala mulai terlihat.
"Dikira fondasi bangunan," jelas Karnoto.
Di desa yang sama, tepatnya di kawasan hutan lindung Petak Watubahan milik KPH Pekalongan Timur, juga ada bebatuan tertata. Bentuknya memanjang, tingginya 2 meter.
Foto: Robby Bernardi/detikcom |
"Menurut para ahli yang datang kemarin, batu itu sudah berusia ribuan tahun," ungkap Karnoto.
Lokasi tak jauh dari air terjun. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan akan menjadikan area wisata.
Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Suwarno, saat dihubungi mengakui sejak tanggal 3 Oktober hingga 15 Oktober 2016, pihaknya kedatangan tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. "Tim ini melakukan kajian tentang beberapa temuan di Kabupaten Pekalongan. Hasilnya sendiri kita belum mengetahui pasti," Katanya.
Foto: Robby Bernardi/detikcom |












































Foto: Robby Bernardi/detikcom
Foto: Robby Bernardi/detikcom
Foto: Robby Bernardi/detikcom