"Programnya bagus. Programnya untuk kemaslahatan umat, sesuai dengan rencana-rencana saya, impian-impian saya selama ini," kata Marwah Daud Ibrahim kepada wartawan usai menjalani pemeriksaan di gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim, Jalan A Yani, Surabaya, Senin (17/10/2016).
Ia mengatakan, tidak takut hadirnya kerajaan akan menjadikan negara dalam negara. "Oh ini beda. Ini keraton kesultanan. Kerajaan ini lebih ke fungsi budaya. Fungsi untuk ya kalau kita lihat kan tatanan berbangsa bernegara," tuturnya sambil menambahkan,
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kuno katanya. Saya bilang kurang apa majunya Jepang, dia punya Kaisar. Kurang apa Malaysia? Dia juga punya rajanya dihormati. Kurang apa Thailand, betapa rakyatnya menghormati dan mencintai rajanya. Jadi enggak ada pertentangan negara dalam negara," terangnya.
Meski baru dua bulan menjabat sebagai ketua yayasan 'kerjaaannya Dimas Kanjeng', Marwah sudah memiliki program-program.
"Kita punya tim program yang sekarang ini pendataan seluruh anggota, seluruh santri. Mereka brasal dari kabupaten mana, dan terus keunggulan di masing-masing kabupaten itu apa. Karena garis besar programnya antara lain seperti bagaimana membangun sekolah sesuai unggulan daerah. Kemudian bagaimana memberikan santunan seperti di Islam memberikan bantuan ke guru-guru ngaji yang selama ini belum
sepenuhnya diperhatikan. Bagaimana kemudian rumah-rumah ibadah. Kan di sana ada Hindu, Kristen, ada Islam, ada Katolik," paparnya.
Kemudian ia menambahkan, program tersebut bisa dicontohkan seperti di area padepokan Dimas Kanjeng. Ada pembangunan masjid, pendopo untuk rapat bersama, tempat ibadah. Dia juga berencana membangun koperasi.
"Jadi model awalnya ada di Probolinggo," katanya.
"Kemudian teman-teman kan diminta supaya ada dari seluruh provinsi, ada seluruh kabupaten dan masing-masing diharapkan membuat program di kabupaten masing-masing," jelasnya. (roi/bag)











































