Anies Baswedan: Bila Anak Muda Muncul Jadi Calon Pemimpin, Perlu Didukung

Anies Baswedan: Bila Anak Muda Muncul Jadi Calon Pemimpin, Perlu Didukung

Noval Dhwinuari Antony, Haris Fadhil - detikNews
Minggu, 16 Okt 2016 01:19 WIB
Anies Baswedan: Bila Anak Muda Muncul Jadi Calon Pemimpin, Perlu Didukung
Foto: Ahmad Ziaul Fitrahudin/detikcom
Jakarta - Bakal Calon Gubernut DKI Jakarta Anies Baswedan menekankan pentingnya pemuda menjadi pemimpin. Jika pemuda muncul sebagai calon pemimpin, pemuda harus didorong, bukan dijadikan sosok yang perlu dilawan.

Awalnya, Anies melihat fenomena ada orang yang punya problem justru tak dipermasalahkan saat orang tersebut terjun ke politik, arena pencarian kekuasaan. Namun bila ada orang yang tak punya rekam jejak buruh masuk ke politik, justru orang itu disesalkan masuk politik.

"Pemimpin jangan pernah mundur. Problem kita ini, sering kali kalau ada orang bermasalah masuk politik, tidak dipermasalahkan. Kalau ada orang tidak bermasalah masuk politik malah dipermasalahkan," kata Anies usai memberi materi Dikltnas HIPMI IV, di Gedung Panca Gatra Lembaga Ketahanan Nasional, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Sabtu (15/10/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seharusnya, orang baik malah perlu didorong untuk terjun ke politik, menggenggam kekuasaan. Apalagi bila ada anak muda yang muncul menjadi calon pemimpin penentu kebijakan, itu perlu didukung.

"Kalau orang baik hanya mau menjadi pembayar pajak yang baik, siapa yang mengurus uang pajak kita. Kalau orang baik hanya mau jadi pengusaha siapa yang mau jadi pembuat kebijakan. Kalau ada anak muda muncul harus didorong, jangan selalu dianggap jadi kompetitor," ujar Anies.

Pemerintahan harus memiliki visi yang sederhana agar masyarakat mampu mengaplikasikannya. Negara memiliki blue print yang dulu disebut Garis Besar Haluan Negara (GBHN), sekarang disebut Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Namun menurut Anies, GBHN kala itu lebih dirasa keberadaannya oleh masyarakat dibanding RPJP dan RPJMN saat ini.

"Karena dulu diterjemahkan dalam bahasa politik yang sederhana, trilogi pembangunan, pertumbuhan, stabilitas, pemerataan,nanti lima tahun berikutnya dibalik, diberi istilah yang simple. Ini pentingnya punya visi sederhana agar semua bisa memahami tanpa baca konsep yang panjang lebar," jelasnya.

Kemudian, dia mengambil contoh dalam segi pendidikan. Pembangunan di bidang ini amat penting. Pendidikan yang baik bagi Anies adalah pendidikan yang menyenangkan. Jika berhasil menyenangkan peserta didiknya, maka sekolah tersebut menyelenggarakan pendidikan yang baik. Ini adalah bahasa politik yang sederahana.

"Kalau sekolah sudah menyenangkan berarti pendidikan baik," katanya.

Anies berjanji akan melanjutkan dan mengembangkan berbagai kebijakan yang baik. Untuk itu, Dia mengajak semua pihak untuk berhenti saling menjelekkan. Publik perlu diajak langsung dalam mengiplementasikan suatu kebijakan yang baik. Antar anak hari pertama sekolah salah satunya.

"Contohnya gerakan antar anak hari pertama sekolah, supaya orang tua jadi pengawas terdepan tentang sekolah. Tapi sepekan setelah itu saya pensiun. Mudah-mudahan oleh Kementerian diteruskan," kata mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini. (dnu/dnu)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads