"Begitu kita sampai pada pilihan-pilihan kebijakan, maka kita bisa sama, berbeda, bisa agak berbeda. Nah sampean dari Golkar, lihat dulu Golkar ke mana, sekarang kemana. Kok malah anda enggak tanya? Kalau saya, malah saya pertanyakan itu. Dan itu sebenarnya yang terjadi," kata Anies usai memberi materi Dikltnas HIPMI IV, di Gedung Panca Gatra Lembaga Ketahanan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Sabtu (15/10/2016).
Sebagaimana diketahui, dahulu Golkar dikenal sebagai partai di barisan Koalisi Merah Putih (KMP) yang berseberangan dengan partai-partai pendukung pemerintah. Belakangan, Golkar di bawah Ketua Umum Setya Novanto berbalik arah mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sekalian, Novanto membawa Golkar mendukung petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Pilgub DKI 2017. Bahkan Golkar juga mendukung Jokowi di Pilpres 2019 nanti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan saya perlu garis bawahi, Pilpres sudah selesai, tim pemenang sudah selesai, pemenangnya juga sudah ada, jadi banyak yang mengira kita ini masih Pilpres. Sudah selesai, sudah selesai. Sekarang kita lagi pemilihan calon gubernur," kata Anies.
Dia juga mengajak para lawan poltiknya di Pilgub DKI untuk bertarung secara positif. Apresisasi diberikannya kepada PKS dan Gerindra selaku partai pengusungnya maju ke Pilgub DKI, yang notabenenya merupakan lawan pada Pilpres 2014 lalu. Sebagaimana diketahui, Anies merupakan Juru Bicara Jikowi pada Pilpres 2014 lalu.
"Kita jangan anggap lawan jadi musuh, karena lawan itu adalah kawan dalam pertandingan, lawan badminton adalah teman bermain badminton, lawan di pemilihan gubernur adalah kawan berdemokasi. Karena itu saya apresiasi pada PKS dan Gerindra karena mereka menunjukkan sikap negarawan, partai lain harus kader sendiri, tidak mau orang lain, namun ini bukan hanya yang bukan kadernya, namun yang dulu bersebrangan, ini mengirimkan sinyal bahwa membangun jakarta butuh persatuan," katanya.
Ada yang bertanya mengapa Anies yang dulunya juru bicara Jokowi pada Pilpres 2014, menerima undangan Prabowo untuk maju ke Pilgub DKI. Menurtnya, orang yang berbeda kelompok dapat berada dalam satu pandangan yang sama, dan akhirnya bergabung karena pandangan yang sama itu pula.
"Kemudian ada yang tanya kenapa mau dengan undangan Pak Prabowo, padahal kan Prabowo dan Jokowi beda pada 2014. Iya saya adalah jubir Pak Jokowi, dan Sandiaga Uno adalah juru bicaranya Pak Prabowo (di Pilpres 2014). Kita seumur hidup terbiasa dengan kelompok permanen, contoh, kalau lahir Sunda ya selamanya Sunda ga bisa pindah jadi Jawa. Namun coba lihat kalau saya kasih kebijakan tax amnesty, ada yang setuju ada yang tidak, kalau saya ganti subsidi bisa saja yang setuju tax amnesty bergabung dengan kelompok yang tidak setuju tax amnesty karena sama-sama setuju pada subsidi," katanya.
(dnu/dnu)










































