Dua di antaranya yakni pengusaha Chairul Tanjung dan politikus senior Golkar Akbar Tanjung. Chairul Tanjung atau akrab disapa CT mengenal Sabam terutama dari cerita-cerita orang tuanya.
"Saya mengenal Pak Sabam lebih karena cerita-cerita karena saya masuk generasi yang relatif jauh di bawah Pak Sabam. Namun orang tua saya, dahulu adalah wartawan di Koran Suluh Indonesia yang waktu itu kantor dan percetakannya di Kemayoran," kata CT mengawali ceritanya di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Sabtu (15/10/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keluarga kami hidup sangat berkesusahan pindah dari satu tempat ke tempat lain, nomaden, tidak punya rumah. Itulah yang menyebabkan sampai hari ini saya tidak berpolitik, karena pengalaman masa lalu orang tua saya begitu tragis terlibat dalam politik. Itulah kenapa saya saat ini tetap berdiri independen, tidak berpihak satu dengan lain, memilih jalur jadi pengusaha untuk terus memajukan bangsa ini," tutur CT.
"Orang tua saya (Abdul Ghafar Tanjung) sempat memimpin PNI di tingkat ranting, bukan even di tingkat cabang, itu di Sawah Besar. Itulah kisah saya ingat Pak Sabam," imbuhnya.
Sementara itu Akbar Tanjung mengingat Sabam sebagai sosok yang begitu berperan di masa orde baru.
"Saya termasuk orang yang merindukan bisa berusia sama dengan Bang Sabam. Beliau 80 tahun, saya 71 tahun. Masih ada 9 tahun lagi, mudah-mudahan Tuhan memberkati," ujar Akbar.
"Saya mengenal Bang Sabam secara fisik, waktu beliau sama-sama di DPR dan MPR. Sebelum itu saya juga mengikuti kiprah beliau, khususnya pada orde baru, punya kemampuan yang begitu bisa kita kagumi," kenangnya.
(rna/trw)











































