"Notes (catatan), bukan surat. Memang ada dua notes terpisah. Intinya ada tiga yang digarisbawahi," kata Konsulat Jenderal RI untuk Hong Kong Tri Tharyat kepada detikcom, Kamis (13/10/2016).
Poin pertama adalah tentang kerinduannya kepada kampung halaman di Ponorogo. Kedua, kerinduannya kepada anak laki-lakinya yang berusia 3 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Catatan itu masih disimpan oleh kepolisian Hong Kong untuk pemeriksaan lebih lanjut. Polisi setempat juga masih belum mengambil kesimpulan atas penyebab meninggalnya Dhinia.
"Apakah itu bunuh diri atau terjatuh, masih dicari tahu," imbuh Tri.
Sempat Dinyatakan Hilang oleh Majikannya
Dhinia Sabatini (24) TKI asal Ponorogo diduga bunuh diri di Hong Kong. Jasad Dhinia pertama kali ditemukan oleh majikannya dan polisi.
"Awalnya sempat dinyatakan hilang oleh majikannya. Kemudian majikan ya melapor ke polisi," sambung Tri.
Jenazah Dhinia ditemukan pada Minggu (9/10). Tri tidak bisa menjelaskan secara detail bagaimana kondisi jenazah saat ditemukan.
Tri hanya menyebutkan, di Hong Kong pekan lalu ada libur panjang akhir pekan sampai dengan Senin (10/10). Kebetulan majikan Dhinia sedang pergi ke luar kota.
"Kemudian saat majikannya pulang, dicari-cari kok enggak ada? Kemudian majikannya melapor ke polisi dan dicari bersama," kata Tri.
Setelah itu barulah KJRI Hing Kong diinformasikan oleh polisi. KJRI lalu menuju rumah sakit tempat jenazah disemayamkan.
"Kami bertemu polisi di kamar jenazah dan langsung berkoordinasi," ujar Tri.
KJRI lalu menghubungi suami Dhinia. Polisi baru akan melakukan autopsi setelah ada surat pernyataan dari pihak keluarga. Polisi belum berkesimpulan apakah Dhinia benar bunuh diri atau kah terjatuh dari atap apartemen di Tuen Mun
Sementara itu untuk proses pemulangan, ada sejumlah administrasi yang harus dipenuhi. Tri belum bisa memastikan kapan jenazah bisa dipulangkan.
(bpn/rvk)










































