"Pertama, di hulunya kita harus bicara dengan Pemda Jawa Barat tentang memastikan agar volume air dari hulu ke Jakarta terkendali. Kedua, daerah aliran sungai memastikan tidak ada air yang spil over atau keluar dari aliran sungai," ucap Anies saat berkunjung ke redaksi detikcom, Jalan Warung Jati Barat Raya, Jakarta Selatan, Kamis (13/10/2016).
"Ketiga, bagi masyarakat bagaimana bisa sesedikit mungkin membuang air ke saluran, tapi semaksimal mungkin air dimasukan ke dalam sumur resapan. Keempat memastikan semua jalur aliran air itu berjalan dengan baik tida ada hambatan. jadi dari hulu berjalan, ya hilir dan juga dari rumah tangganya. Itu contoh," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Anies-Sandi Ingin Warga Lebih Dilibatkan Membangun Jakarta
"Jadi negara hadir bukan hanya saat melayani, tapi justru mendukung apa yang dikerjakan masyarakat. Jadi kolaborasi. Di negara-negara maju, dalam mengelola kota pasti ruang partisipasi publiknya tinggi. Di negara yang demokrasinya maju, masyarakatnya pasti terlibat," terang mantan Mendikbud itu.
Empat solusi banjir di atas masih berupa gambaran umum program yang secara rinci akan dituangkan dalam program kerja yang lebih konkret. Sementara dalam visi misi yang disetorkan ke KPU DKI, di dalamnya tak merinci spesifik isu banjir.
Namun tertuang dalam program priortas 'Perbaikan Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Jakarta'. Pada poin 3 ada program: Mengatasi masalah air secara menyeluruh melalui penyusunan perencanaan bersama dengan daerah penyangga untuk memperkuat sumber daya airt beserta dampak ikutannya.
Kemudian pada poin 4: 'Menerapkan kebijakan nol limpasan di dalam Jakarta dengan pemanfaatan teknologi tepat guna untuk memasukkan air ke dalam tanah dan mengolah air limbah'.
Baca juga: Membandingkan Cara Ahok, Anies dan Agus Selesaikan Banjir Jakarta
(miq/erd)











































