"Misal penataan ruang, maka masukan pengusaha di situ, masukan pekerja, orang tua, siswa, masyarakat di situ. Jadi musyawarah, bukan untuk dengar pendapat. 'Ini masalah kita, saya (gubernur) punya anggaran untuk selesaikan sama-sama. Sekarang ini, 'ini solusi dari saya, tolong komentari menurut anda bagaimana?',' ucap Anies saat berkunjung ke redaksi detikcom, Jalan Warung Jati Barat Raya, Jakarta Selatan, Kamis (13/10/2016).
Menurut Anies, setiap warga punya solusi berbeda untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Masalahnya adalah mereka tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Padahal, sangat penting memiliki rasa tanggung jawab bersama atas satu masalah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Taman itu lebih bagus dibangun oleh warga dari pada oleh sebuah PT. Kita punya ruang (partisipasi) itu. Solusinya bisa jadi sama, tapi pendekatannya berbeda." ujar Anies memberi contoh lain.
"Jadi negara hadir bukan hanya saat melayani, tapi justru mendukung apa yang dikerjakan masyarakat. Jadi kolaborasi. Di negara-negara maju, dalam mengelola kota pasti ruang partisipasi publiknya tinggi. Di negara yang demokrasinya maju, masyarakatnya pasti terlibat," imbuh mantan Mendikbud itu.
Anies menuturkan banyak warga yang ingin terlibat dalam pembangunan, namun tidak pernah diajak bicara. Hal itu juga merespons anggapan warga Jakarta cuek terhadap pembangunan dan ingin serba instan, tanpa ikut dalam prosesnya.
"Banyak stok orang mau terlibat. Hanya sekarang belum ada tawaran kegiatan. Kalau ada tujuan mulia, orang mau kok datang," ucap penggagas Indonesia mengajar itu.
Soal pelibatan warga dalam pembangunan DKI ini, sudah diuraikan oleh Anies-Sandiaga dalam program prioritas nomor satu mereka yaitu "Pemberdayaan dan Pelibatan Warga". Ada 3 poin di dalamnya. Berikut ini:
1. Menyediakan inkubasi startup usaha kecil kreatif dan berbasis teknologi serta menyebarkan praktik baik dari warga terhadap penanganan masalah-masalah kota melalui Unit Partisipasi Pembangunan Kota di tingkat kelurahan.
2. Memperbanyak dan meningkatkan kenyamanan ruang publik sebagai tempat ekspresi bnudaya dan kreativitas, interaksi yang sehat antar warga dan perekatan kohesi sosial.
3. Memampukan dan membantu warga dalam mengurangi sampah rumah tanga dan menggalakan apotek dan warung hidup.
(miq/van)











































