Diketahui, kantor asrama putra merupakan tempat Abdul Ghani, dihabisi oleh Wahyu Wijaya dan kawan-kawan di salah satu kamar asrama putra tersebut.
Letak dua makam yang ditemukan itu, tepat belakang area kantor asrama putra, dan dikelilingi pagar setinggi 2.5 meter. Sehingga keberadaan makam sempat tersembunyi dari pantauan.
Tampak satu makam sudah dibangun dan berwarna hijau, satu makam lagi masih tertutup terpal berwarna cokelat. Dugaan sementara, makam yang tertutup terpal plastik merupakan santri yang meninggal pada tahun 2016. Sedangkan makam yang berwarna hijau diduga santri yang meninggal tahun 2013 lalu.
Menurut Supriyono, Kepala Desa Gading wetan, dua area makam di belakang rumah Taat Pribadi dan sisi timur kantor asrama putra merupakan makam lama. Soal adanya santri meninggal tahun 2013 dan 2016, pihak desa tidak pernah diberi tahu oleh padepokan.
"Memang ada 2 santri dimakamkan di padepokan, tapi saya tidak tahu pasti seperti apa, karena selama ini pihak padepokan belum ada komunikasi soal itu terhadap kami," ujar Supriyono, kepada wartawan saat di padepokan, Selasa (11/10/2016) sore.
Sementara Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifudin, mengaku pihaknya akan menyelidiki secara intensif dua makam yang ditemukan ini.
"Kalau meninggal secara tidak wajar atau secara wajar kita masih melakukan proses. Kita mengimbau masyarakat kalau ada kehilangan keluarga segera melapor, agar kami mudah melakukan penyelidikan," kata Kapolres Arman.
Sementara yang diketahui saat ini, jelas kapolres, dua makam itu pengikut asal Magetan. Namun pihaknya masih lakukan penyelidikan lebih lanjut.
Hingga sejauh ini, polisi belum membuka soal dua makam di belakang asrama putra, apakah benar-benar makam tersebut makam dua santri asal Kalimantan dan Magetan.
(bag/bag)











































