Sophiati bersama keluarga tinggal di RT06/RW02. Lokasinya tak jauh dari aliran sungai Ciroyom. Selama tinggal selama tiga tahun di lokasi tersebut, baru pertama kali terjadi banjir.
"Selama tiga tahun tinggal di sini, baru pertama kali ada banjir. Saya kaget liat air deres kayak gitu di depan rumah," ujar dia kepada detikcom, Selasa (11/10/2016).
Ibu tiga orang anak ini menceritakan peristiwa banjir yang berlangsung pada Minggu (9/10/2016) sekitar pukul 17.00 WIB. Saat itu, hujan disertai angin kencang juga melanda kawasan tersebut.
Ia mengaku berada di rumah bersama dua buah hatinya. Kondisi cuaca yang kurang bersahabat membuatnya sedikit khawatir berada di dalam rumah.
"Pas hujan angin itu perasaan saya enggak enak. Anak saya yang lagi tidur juga langsung saya bangunin buat siap-siap kalau ada sesuatu," tutur dia.
Firasatnya saat itu ternyata benar. Di tengah hujan disertai angin kencang, tiba-tiba air bah setinggi 50 centimeter datang menerjang rumahnya. Seketika itu pula ia langsung masuk ke dalam rumah mengajak kedua anaknya meninggalkan rumah.
"Saya panik langsung ngajak anak saya keluar rumah. Saya cuma bawa sarung sama uang ngungsi ke warga yang enggak kena banjir," kata dia.
Melihat derasnya air, kedua anaknya terus menangis dan sempat shock. Sehingga, sambung dia, pasca banjir kedua anaknya tidak masuk sekolah lantaran masih trauma dengan kejadian tersebut.
"Bukan saya aja yang trauma, tapi anak-anak juga. Soalnya situasinya panik banget. Warga yang lain juga pada panik," ucap dia.
Berdasarkan pantauan detikcom, sisa-sisa lumpur dari banjir menumpuk di sekitar rumah warga. Namun, rumah-rumah warga yang sebelumnya terendam banjir sudah di bersihkan.
Banjir kali ini ada sekitar lima RT di Dusun Patinggen yang terdampak banjir. Ketinggian banjir bervariasi mulai dari 50 centimeter hingga 1 meter. Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. (ern/ern)











































