"Faktor internet merupakan faktor yang dapat menimbulkan rangsangan bagi orang-orang untuk tertarik bergabung menjadi teroris, seperti ISIS," kata Ari di sela Seminar Sekolah Sespimmen Polri Dikreg ke-56, di PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (11/10/2016).
Menurut Ari Dono, terorisme yang ada di Indonesia merupakan bentuk pemahaman yang salah terhadap Islam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ari menuturkan, pencegahan menjadi faktor penting dalam penanganan terorisme. Ari percaya bahwa penegakkan hukum bukan satu-satunya cara efektif untuk membuat seseorang jera.
"Harus ada pendekatan terhadap masyarakat terutama masyarakat yang rentan terhadap masalah pendidikan, ekonomi, fanatisme. Itu tidak hanya tanggungjawab polisi saja, tetapi juga elemen masyarakat yang lain," tutur Ari.
Sebelumnya Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius menilai persebaran paham terorisme bisa dilakukan melalui perangkat elektronik. Oleh karena itu BNPT menilai orang tua harus mengawasi anak-anaknya yang bermain gadget secara ketat.
"Bapak dan Ibu harus bisa mengawasi anak-anaknya karena akses sosial media yang sangat mudah. Anak-anak tidak boleh menyendiri, bahkan orang tua harus mengawasi konten yang sedang dibuka oleh si anak," jelas Komjen Suhardi, Selasa (11/10).
(rna/fjp)











































