Saat detikcom mengunjungi PPI Muara Baru, Jalan Muara Baru Raya, Jakarta Utara, terlihat banyak para pedagang yang bersantai. Tidak banyak kegiatan bongkar muat ikan yang berlangsung di salah satu pelelangan ikan terbesar di Jakarta selain Muara Angke tersebut. Kontainer dan mobil pikap pembawa ikan juga jarang yang keluar masuk.
![]() |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Rudi, dari sekitar 1.000 kios yang ada di PPI Muara Baru, tidak sampai setengahnya yang masih berjualan. Mereka memilih berjualan untuk memasok ikan di rumah makan di Muara Baru dan sekitarnya.
"Yang masih jualan enggak sampai setengahnya. Itu juga biar enggak kekurangan pasokan ikan di sekitar sini. Nanti kalau mogok semua, pengusaha warteg dan restoran ikutan mogok juga kalau enggak ada pasokan ikan," ujarnya.
Sementara pedagang lain, Mursyid, mengatakan alasan lain sepinya PPI Muara Baru adalah karena PPI Muara Baru mulai kalah bersaing dengan PPI Muara Angke. Ditambah lagi adanya isu harga sewa akan dinaikkan membuat pedagang mulai malas berjalan.
![]() |
Menurut Mursyid, bila kondisi ini terus berlangsung, kejadian Pasar Ikan akan terulang lagi. Pada masanya, Pasar Ikan pernah menjadi PPI terbesar dan teramai di Jakarta. Adanya kemunculan PPI Muara Baru membuat Pasar Ikan perlahan kehilangan pamornya dan kemudian ditinggal pelanggan.
"Kalau seperti ini terus kejadian Pasar Ikan bisa kejadian lagi. Dulu kan Pasar Ikan pernah ramai banget, sebelum adanya (PPI) Muara Baru. Begitu ada (PPI) Muara Baru, orang pada pindah kesini. Kalau (PPI) Muara Baru begini terus nanti orang pada pindah lagi ke (PPI) Muara Angke," ucapnya.
Sementara itu, perusahaan yang berada di sekitar PPI Muara Baru juga memilih untuk mogok karena adanya isu kenaikkan harga sewa. Di pagar perusahan-perusahaan tersebut terdapat spanduk yang bertuliskan "Kami Tutup Operasional". (bis/fjp)













































