"Sekarang teroris banyak masuk dari sosial media. Ketika anak-anak itu menyendiri, kita lihat konten apa yang dilihatnya," kata Komjen Suhardi, saat memberi sambutan di Seminar Sekolah Sespimmen Dikreg-56 di Auditorium PTIK, Jl Tirtayasa, Jakarta Selatan, Selasa (11/10/2016).
Menurut Suhardi, anak-anak berselancar di dunia maya bisa mencapai 180 menit atau 3 jam dalam sehari. Dalam waktu selama itu, bukan tidak mungkin mereka membuka konten yang mengandung radikalisme.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suhardi menambahkan, perhatian orang akan sangat dibutuhkan untuk mencegah anak-anak terpapar terorisme.
"Bahayanya juga, perhatian orangtua terhadap anak juga berkurang. Peran keluarga, bapak ibunya harus bisa mengawasi anaknya," tutur Suhardi.
Sebelumnya, Wakabaintelkam Polri Irjen Lutfi Lubihanto mengungkap ada sekitar 1.242 WNI yang menjadi simpatisan ISIS. Sebanyak 383 WNI terlibat ISIS di Suriah, 75 WNI berencana akan pergi ke Suriah, 54 WNI meninggal di Suriah, dan 47 WNI sudah kembali dari Suriah.
"Propaganda ISIS yang dibangun melalui media sosial menimbulkan motivasi para jihadis di berbagai negara. Luasnya wilayah Indonesia dan banyaknya pintu masuk maupun keluar serta kurangnya pengawasan petugas, dimanfaatkan untuk berjihad ke Suriah," jelas Lutfi di kesempatan yang sama.
(rna/fdn)










































