Kapolri Ingatkan Bintara Kerja Profesional Agar Dipercaya Publik

Kapolri Ingatkan Bintara Kerja Profesional Agar Dipercaya Publik

Idham Kholid - detikNews
Selasa, 11 Okt 2016 13:28 WIB
Kapolri Ingatkan Bintara Kerja Profesional Agar Dipercaya Publik
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan target mengembalikan kepercayaan publik terhadap Polri belum sepenuhnya tercapai jelang 100 hari kepemimpinannya. Tito juga menyoroti soal perubahan kultur di kepolisian.

Tito mengatakan, kepercayaan publik ditopang tiga hal. Pertama kinerja maksimal Polri yang harus dilandasi profesionalisme penegakan hukum.

"Selanjutnya kultur seperti perilaku koruptif di kepolisian, arogansi juga budaya kekerasaan berlebihan. Contohnya di Riau kemarin tersangka ditangkap sehat sampai di kantor polisi meninggal dan kantor polisi diserang, ini faktor kultural yang harus diperbaiki," kata Tito.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini disampaikan Tito dalam acara diskusi "100 Hari Program Prioritas Kapolri" yang digelar di Rupatama, Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (11/10/2016). Direktur Imparsial Al Araf, dan Psikolog Politik UI Hamdi Muluk juga jadi pembicara diskusi.

 Kapolri Tito Karnavian dalam acara diskusi Kapolri Tito Karnavian dalam acara diskusi "100 Hari Program Prioritas Kapolri" di Mabes Polri, Selasa (11/10/2016). Foto: Idham Kholid-detikcom


Sedangkan penopang ketiga kepercayaan terhadap Polri adalah media massa. Sorotan terhadap oknum anggota yang melakukan penyimpangan tentu berimbas negatif terhadap Polri.

"Ketiga, manajemen media yang kurang pas. Karena ada 400 ribu anggota polisi baik tapi tidak termonitor oleh media tentunya. Ketika satu anggota perwira (Mantan Wakapolsek Kemayoran) ditemukan di emperan toko jadi viral berkembang terus menerus. Ini saya yakin harus diperbaiki yakni kinerja, kultur dan ketiga pengelolaan manajemen medianya," ujarnya.

Kata Tito, perubahan kultur kinerja anggota kepolisian ada yang sudah cukup membaik, namun ada juga yang belum. Kultur artinya sikap arogansi, budaya koruptif, dan pengguna kekerasan eksesif yang masih ada.

Menurut Tito, hal itu terjadi karena paket kebijakan yang disusun, penerapannya baru sampai di tingkat menengah ke atas. Belum sampai di tingkat bawah.

"Para pelaksana di lapangan para Bintara Tamtama ini belum banyak sampai para perwira pertama pun belum banyak mengetahui sehingga mereka belum menyadari bahwa betapa pentingnya public trust bagaimana pentingnya peran mereka tiap-tiap orang," ujarnya.

"400 ribu orang polisi berbuat baik, satu saja anggota saja melakukan kekerasan meninggal, satu orang salah, naik ke media itu akan menghapuskan yang baik-baik tadi semua," sambungnya.

Karena itu, lanjut Tito, sosialisasi ke tingkat bawah serta penerapan kebijakan reward and punishment terus akan terus dilakukan. (idh/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads