PDIP Bali Kecewa, Mega Langsung Beri Klarifikasi
Jumat, 01 Apr 2005 14:57 WIB
Sanur - DPD PDIP Bali kecewa karena jagoannya untuk menempati kursi pengurus DPP tidak lolos. Mega buru-buru memberikan klarifikasi langsung, meski tetap tidak mengabulkan keinginan itu. PDIP Bali akhirnya tetap tunduk atas putusan Mega.Sang Ketua Umum PDIP itu menggelar pertemuan khusus dengan sekitar 50 orang Utusan DPD dan Utusan DPC PDIP Kabupaten/Kota se-Bali. Turut hadir Ketua DPD PDIP Bali Ida Bagus Putu Wesnawa.Pertemuan berlangsung tertutup di lantai 10, Ruang Bali Hai, Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Bali, Jumat (1/4/2005).Ada dua orang yang dijagokan PDIP Bali untuk menempati kursi pengurus DPP. Mereka adalah Anak Agung Rai Wirajaya dan Made Urip. Namun yang dipilih justru Dewi Jaksa, meski orang Bali tapi bukan dari pengurus PDIP Bali.PDIP Bali pun kecewa dan tidak habis pikir. Sebab Bali merupakan daerah yang memenangkan PDIP dalam Pemilu dan Mega dalam Pilpres 2004. Bali juga sudah dua kali sukses menjadi tuan tumah kongres.Lalu apa alasan Mega memunculkan nama Dewi? Salah seorang jagoan yang tidak lolos, yakni Anak Agung Rai Wirajaya menjelaskan, Mega terlebih dulu melihat ranking kader di DPR RI, lalu lebih memilih kader perempuan. Berikut wawancaranya:"Ibu melihat ranking kader secara nasional di DPR RI. Siapa-siapa yang mendapat suara terbanyak di Pemilu legislatif. Dari 5 anggota DPR RI asal Bali, ada 3 orang yang mendapat ranking tertinggi. Saya, Made Urip, dan Dewi Jaksa," urainya.Dari ketiga orang tersebut, lanjut dia, Mega memilih kader perempuan. Alasannya karena melihat kader perempuan di kepengurusan DPP kurang, sehingga Dewi Jaksa lah yang dipilih Mega.Ditanya apakah PDIP Bali tetap akan protes dengan keputusan itu, Wirajaya mengaku pihaknya sudah bersikap lunak setelah mendapat penjelasan dari Mega."Kita harus menjalankan apapun yang diputuskan kongres. Setelah ada penjelasan dari Ibu, mari kita jalankan tugas dengan baik. Konges sudah dilaksanakan, sudah ada seleksi. Tidak harus yang duduk di DPP berasal dari daerahnya. Mereka harus sebagai orang nasional," katanya kalem dan terdengar pasrah.
(sss/)











































