DetikNews
Selasa 11 Oktober 2016, 10:38 WIB

Rahasia Kebahagiaan Warga Denmark

Negara yang Memanjakan Pesepeda, Warganya pun Bahagia

Erwin Dariyanto - detikNews
Negara yang Memanjakan Pesepeda, Warganya pun Bahagia Foto: Erwin Dariyanto/detikcom
Jakarta - Tahun 2016 ini Denmark untuk ke sekian kalinya kembali dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia oleh Perserikatan
Bangsa Bangsa (PBB). Sejak PBB mulai merilis indeks kebahagian negara-negara di dunia pada 2012 lalu setidaknya sudah 3
kali predikat itu diraih Denmark, yakni 2013, 2015 dan tahun ini.

Apa rahasia Denmark sehingga menjadi negara terbahagia di dunia?

Pada pekan kedua September 2016 lalu, detikcom berkesempatan menyusuri sejumlah tempat di Denmark. Sejumlah warga menceritakan kebahagiaan mereka. Cerita dari salah satu negara di Semenanjung Skandinavia itu akan diturunkan dalam beberapa seri tulisan. Artikel ini adalah tulisan yang pertama.


*****

Suhu udara di Bandara Internasional Kopenhagen Denmark pada Minggu pagi, 18 September 2016 berada pada angka 18 derajat Celcius. Cuaca cukup bersahabat bagi kami yang baru datang dari Indonesia pagi itu.

Negara yang Memanjakan Pesepeda, Warganya pun Bahagia


Jalanan tak begitu ramai karena memang hari itu para pekerja di kota berpenduduk tak lebih dari 3 juta jiwa itu tengah libur. Hanya tampak beberapa warga mengayuh sepeda di jalur yang telah disediakan.

"Awas hati-hati turunnya, hati-hati ada sepeda melintas," kata Edgin, pengemudi yang mengantar kami dari Bandara ke hotel
tempat kami menginap di Kopenhagen, Minggu (18/9/2016).

Pengemudi berusia 41 tahun itu perlu mengingatkan kami karena pesepeda di Kopenhagen mendapatkan sejumlah keistimewaan. Pesepeda bisa menuntut pejalan kaki yang melintas di jalur sepeda. "Di sini kalau kita (pejalan kaki) tertabrak sepeda,
kita yang disalahkan. Meskipun kita yang luka-luka," kata dia.

Negara yang Memanjakan Pesepeda, Warganya pun Bahagia


Menurut Edgin, mayoritas warga Kopenhagen lebih senang menggunakan sepeda ketimbang menggunakan kendaraan pribadi untuk
aktivitas sehari-hari. Seperti ke sekolah, kampus atau pun bekerja. Tak heran jika banyak pesepeda di Kopenhagen yang
berpakaian necis dengan jas atau kemeja.

Selain itu dengan bersepeda waktu tempuh juga lebih cepat ketimbang menggunakan mobil pribadi. Edgin yang menemani kami di
hari Senin berikutnya mencontohkan suasana lalu lintas jalanan di hari itu yang agak padat.

"Anda lihat sendiri dengan mobil kita kena macet. Sementara dengan sepeda mereka bisa lebih cepat," kata dia.

Tingginya pengguna sepeda di Kopenhagen sebanding dengan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah Denmark. Jalur sepeda
benar-benar terpisah dengan jalan untuk kendaraan, mirip jalur bus Transjakarta di Jakarta. Ada sebuah pembatas jelas yang
memisahkan antara pesepeda dengan pengguna kendaraan bermotor. Dengan pembatas tersebut, pesepeda tentu akan merasa nyaman
dan aman.

Di Kopenhagen setidaknya panjang jalur sepeda mencapai 180 kilometer lengkap dengan rambu-rambu khusus lalu lintas
pesepeda. Ada juga tempat parkir yang begitu nyaman bagi sepeda.

Bukan tanpa alasan ketika pemerintah Denmark begitu memanjakan pesepeda. Sebuah riset yang dilakukan oleh pemerintah
setempat pada tahun 2013 lalu menunjukkan bahwa dengan bersepeda bisa menghemat anggaran hingga USD 34 juta per tahunnya.

"Kalau kamu bisa berkeliling Kopenhagen dengan sepeda yang murah, hemat, kenapa harus naik mobil pribadi?" kata Edgin.
(erd/nwk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed