"Indonesia telah mengalami beberapa serangan terorisme, mulai dari DI/TII, dan memuncak sejak tahun 2002-2016, sudah ada 1700 tersangka yang tertangkap, 98 persen pelaku dalam rangka membela kebenaran dengan alasan faktor ideologi agama," kata Irjen Eko.
Hal tersebut disampaikan Eko saat memberi sambutan di Seminar Sekolah Sespimmen Dikreg-56 ini diadakan di Auditorium PTIK, Jl. Tirtayasa, Jakarta Selatan, Selasa (11/10/2016). Eko memberi sambutan mewakili Kapolri Jenderal Tito Karnavian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eko mengatakan, terorisme merupakan ancaman global yang dampaknya dirasakan seluruh penduduk dunia, termasuk Indonesia. Paham radikalisme, menurut Eko, juga menyerang di berbagai segmen pendidikan.
"Aktor terorisme juga menyasar pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi. Pemerintah RI memiliki komitmen kuat menangani terorisme. Pemerintah RI juga telah menyusun sejumlah instrumen hukum," sambung Eko.
Eko menambahkan, Polri secara paralel membina hubungan sinergi dengan beberapa lembaga terkait. Upaya pencegahan terorisme diimbangi kontra radikalisme dan juga deradikalisasi. Eko mengajak masyarakat untuk turun aktif melawan terorisme.
"Masyarakat harus berperan aktif melalui kegiatan tokoh masyarakat dan tokoh agama. Radikalisme adalah musuh bersama. Maka dari itu, ini menjadi tanggungjawab seluruh elemen masyarakat," tutup Eko. (rna/rna)











































