WNI Ditangkap di Filipina, Deplu Upayakan Pengacara

WNI Ditangkap di Filipina, Deplu Upayakan Pengacara

- detikNews
Jumat, 01 Apr 2005 14:26 WIB
Jakarta - Departemen Luar Negeri (Deplu) akan mengupayakan pelayanan konsuler dan pengacara kepada Zaki, WNI yang ditangkap aparat keamanan Filipina. Ia diduga terlibat aksi terorisme. Menurut Jubir Deplu Yuri O Thamrin, Zaki alias Rahmat alias Hamdan alias Hakim ditangkap polisi Filipina di Mindanao, 16 Maret 2005 lalu. Selanjutnya, penangkapan itu dipresentasikan di Mabes Angkatan Bersenjata Filipina, 22 Maret 2005. Dikatakan Yuri, pihaknya telah bertemu dengan Zaki. Dalam pertemuan itu, Zaki mengaku sebagai WNI yang berasal dari Deli Serdang, Sumut. "Kondisi fisik Zaki saat ini mendapat perlakuan yang cukup baik dari kepolisian setempat dan tidak pernah disiksa," ujarnya di Deplu, Jl. Pejambon, Jakarta, Jumat (1/4/2005). Menurut Yuri, Zaki memiliki luka di wajahnya. Luka itu akibat terkena pecahan bom saat Angkatan Bersenjata Filipina melancarkan serangan udara ke camp kelompok Abu Sayaf. Zaki akan diajukan ke Depkeh Filipina atas tuduhan keterlibatan kelompok Abu Sayaf dalam kasus Bom Valentine beberapa waktu lalu. KBRI di Manila terus memantau perkembangan kasus ini dan mengupayakan agar Zaki didampingi pengacara. Zaki masuk ke Filipina pertama kali pada tahun 1999 dengan paspor atas nama Zait Abdullah yang dikeluarkan Kantor Imigrasi Solo. Pada tahun 2000, ia kembali masuk ke Filipina dengan paspor dan dokumen yang tidak jelas. Penangkapan WNI Disinggung soal penangkapan WNI di perairan Filipina, Yuri mengakui pihaknya baru menerima berita itu. Saat ini, pihaknya sedang berkoordinasi dengan KBRI Kuala Lumpur, KBRI Manila dan Konjen RI Kinabalu untuk mendapatkan data sebanyak-banyaknya. Fakta yang baru didapat adalah ada sebuah kapal berbendera Malaysia bernama Bongaya dengan 7 orang awak serta kapten kapal berkebangsaan Indonesia. Kapal itu sedang mengangkut kargo di wilayah Filipina Selatan, hampir memasuki wilayah Malaysia. Tiba-tiba kapal itu dikejar speedboat yang berpenumpang sejumlah orang bersenjata AK-47, M-16 dan 3 revolver. Saat ini, 3 dari 7 awak kapal disandera pihak penyerang. (rif/)


Berita Terkait