Gempa Terjadi Saat Membaca Ayat Al Qur'an tentang Goncangan

Gempa Terjadi Saat Membaca Ayat Al Qur'an tentang Goncangan

- detikNews
Jumat, 01 Apr 2005 14:00 WIB
Gunung Sitoli - Malam sudah larut. Tapi Ahmad Rahimsyah masih konsentrasi mengkaji Al Qur'an. Di hadapannya duduk bersila dua keponakan. Mereka tengah belajar tafsir surat Al Isra'.Aktivitas ini berlangsung di kediaman Ahmad Rahimsyah di Jl Kelapa 25, Gunung Sitoli (ibukota Kabupaten Nias) pada Senin (28/3/2005). Satu per satu ayat Surat Al Isra yang ada 111 ayat ini dibaca, dimengerti artinya dan dipamahi tafsirnya.Saat itu Ahmad Rahimsyah yang berprofesi sebagai tukang servis jam tengah mengulang ayat ke-68. Arti ayat itu sbb:"Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkirbalikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? Dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindung pun bagi kamu...."Tiba-tiba saja bumi langsung bergoncang dahsyat. Lampu bergoyang hebat, juga rak lemari di ruangan itu, Ahmad dan dua muridnya yang kaget spontan keluar rumah. Dia memanggil istri dan ke-7 anaknya juga agar cepat keluar dari rumah karena goncangan itu sangat dahsyat.Sang istri, Nur Hijrah, menyelamatkan Nurhaliza yang masih berusia 5 tahun, yang tengah tidur bersama. Di luar rumah, Ahmad Rahimsyah melihat anak-anaknya tidak komplet. Sementara rumah dua lantai miliknya langsung berhamburan.Takut anaknya terkena reruntuhan, Ahmad Rahimsyah tanpa pikir panjang langsung menerobos masuk kembali ke dalam rumah. Dia tak memikirkan apa yang terjadi selanjutnya. Yang penting anak-anaknya yang saat musibah tengah terlelap, segera keluar dari rumah yang mulai ambruk karena gempa itu.Nur Hijrah dan Ahmad Rahimsyah boleh bernafas lega meski rumahnya hancur. Ke-7 anak mereka selamat. Yang terluka hanya Nur yang kejatuhan seng dan anak lelakinya, Armansyah (9 tahun), yang tertusuk paku kakinya."Tampaknya Allah memberi peringatan akan adanya gempa itu dengan caranya sendiri," kata Nur Hijrah, 38 tahun.Rp 200 RibuNur Hijrah menceritakan, saat musibah itu, suaminya masih sempat mengantongi uang kontan Rp 200 ribu. Dengan uang itulah keluarga ini masih bisa bertahan di penampungan yang terletak di Masjid Jami' Ilir di Jl Diponegoro, tak jauh dari kediamannya."Sudah ada warung-warung kecil yang buka. Jadi kita makan pakai uang itu," kata Nur yang berpakaian seadanya. Warung-warung kecil itu menjual stoknya dengan harga relatif mahal. Sedangkan pasar utama belum ada yang buka. Hingga kini lokasi penampungannya belum mendapat bantuan. "Saya nggak tahu gimana setelah ini, soalnya uang kami tinggal beberapa rupiah lagi," keluh perempuan berkerudung yang agak gemuk ini. "Jadi kami berharap pemerintah memberi bantuan kepada kami," sambungnya.Saat ini Nur lebih banyak berada di lokasi pengungsian yang juga dihuni 300 orang lainnya. "Saya belum sempat ke mana-mana, belum melihat kerabat atau rekan kerja, karena kondisinya memang sulit," kata guru SMPN 6 Gunung Sitoli ini. Namun dia sempat mengais-ais bahan pangan dari reruntuhan rumahnya dan memasak di pengungsian.Seperti pengungsi lainnya,kondisi Nur dan keluarga tampak memprihatinkan. Tapi Nur tetap bersyukur dengan keadaan seperti ini. "Saya yakin gempa bumi ini merupakan ujian dari Allah dan Allah tahu yang terbaik bagi kami," demikian kisah Nur Hijrah. (nrl/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini