RI Targetkan Alat Peringatan Dini Bencana Modern-Tradisional
Jumat, 01 Apr 2005 13:26 WIB
Jakarta - Pemerintah Indonesia menargetkan dalam waktu satu minggu akan menyelesaikan peralatan peringatan dini terhadap bencana alam. Modelnya memadukan unsur teknologi modern dengan peralatan tradisional.Peralatan tradisional yang dimaksud adalah yang dimiliki masyarakat, seperti pemanfaatan suara sirene, kentongan, loud speaker, termasuk lonceng gereja.Demikian keputusan pemerintah yang disampaikan usai rapat antara Wapres Jusuf Kalla dengan Menneg Ristek Kusmayanto Kadiman, Menhub Hatta Radjasa, Deputi Kepala BMG Woro, dan Kepala LIPI Umar Anggara Jennie di Kantor Wapres jalan Medan Merdeka Selatan Jakarta Pusat, Jumat (1/4/2005).Model peringatan dini kepada masyarakat akan mengikutsertakan sejumlah departemen terkait, seperti Dephub yang membawahi BMG yang memiliki otoritas berbicara masalah meteorologi dan geofisika. Juga mengikutsertakan Kementerian Ristek yang membawahi LIPI, LAPAN, dan Bakorsutanas."Diputuskan oleh Wapres, secara nasional akan dikembangkan sistem peringatan dini dan nanti di bawah BMG. Menristek secara regional akan mengomandani. LIPI akan memberikan edukasi kepada publik bagaimana mengatasi bencana dan sebagainya," kata Hatta dalam jumpa pers.Kusmayanto menambahkan, dari bencana yang terjadi di Aceh, Nias, dan Simeulue memberi pelajaran besar kepada masyarakat Indonesia. Sekarang masyrakat Indonesia sudah mengerti sistem peringatan dini, bagaimana menghadapi bencana, dan harus berbuat apa.Tantangannya, menurut dia, bagaimana pemerintah bisa menyampaikan informasi langsung kepada masyarakat setelah ada kejadian."Begitu ada kejadian, bagaimana menyampaikan informasi dengan baik, diterima di tempat yang tempat, kemudian orang yang mengerti pesan itu akan bergerak," kata Kusmayanto.Pemerintah, tutur dia, sedang mencari model peringatan dini yang paling efektif, di mana pemerintah akan memanfaatkan kantor-kantor pemerintahan maupun nonpemerintahan yang dalam waktu 24 jam selalu berjaga-jaga.Menurutnya, kantor polisi merupakan institusi yang paling tepat. Jadi begitu ada bencana, BMG akan menyampaikan informasi peringatan kepada kantor kepolisian. Dari situ akan disampaikan ke kantor pemerintah lainnya seperti lurah dan camat agar sampai kepada masyarakat.Dalam model peringatan dini, dia menggambarkan, rancangan awal peringatan dini seperti penggunaan tombol yang ditempatkan di BMG dan tersambung langsung kepada kantor-kantor kepolisian."Sehingga begitu ada kejadian genting seperti bencana alam, BMG akan langsung menekan tombol peringatan tersebut, dan semua kantor polisi bisa menerima peringatan dari kantor BMG. Namun yang terbaik, info peringatan dini diberikan oleh komandan Bakornas baik Presiden ataupun Wapres," urai Kusmayanto.Hatta mengimbuhkan, begitu BMG mengetahui ada kemungkinan bencana alam seperti gempa bumi yang berskala Richter di atas 7 dan kedalamannya di bawah 30 km, maka BMG memiliki otoritas penuh untuk menyampaikan informasi tanda bahaya kepada masyarakat.
(sss/)











































