Dihubungi melalui telepon, Kapolres Cirebon AKBP Sugeng Hariyanto menyatakan korban melaporkan kasus ini pada Jumat siang. "Iya kami terima laporannya. Kejadiannya di RSUD Arjawinangun," ujarnya.
Ia mengaku belum mengetahui secara jelas kejadiannya. "Pemeriksaannya belum dilakukan, baru laporan saja," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi Kamis saya ditelepon Kasubag Kepegawaian untuk menghadap. Jumat pagi pukul 10 kurang 5 saya menghadap. Saya ditanya apakah ada masalah dengan anggota dewan bernama Pak Haji Yoyo, saya jawab iya," cerita Rakhmat.
Laporan Polisi Rakhmat Hidayat (dok. Istimewa) |
Menurutnya yang menjadi pangkal masalah dirinya dengan Yoyo adalah soal uang. Rakhmat mengaku membantu memasukkan dua orang pegawai honorer di RS Arjawinangun atas perantara Yoyo, sebagai anggota dewan, pada Juli 2016 lalu.
"Pak Haji Yoyo ini mengakunya dekat dengan pak bupati. Saat memasukkan dua honorer, dia menunjukkan SMS dia dengan bupati pada saya," ungkapnya.
Untuk memasukkan dua pegawai honorer, diminta uang Rp 100 juta. "Jadi masing-masing Rp 50 juta," katanya.
Menurut Rakhmat, uang itu sudah diserahkannya ke Yoyo saat surat lamaran kedua pegawai honorer diajukan. "Saya baru serahkan Rp 90 juta, karena uang Rp 10 juta saya pakai. Saya sudah bilang akan segera diganti kalau sudah ada uang," tuturnya.
Setelah kedua pegawai bekerja, Rakhmat mengaku terus menerus ditagih oleh Yoyo. Ia mengaku sering diteror melalui SMS.
"Nah Jumat kemarin itu saat saya dipanggil, akhirnya pihak rumah sakit mau menalangi uang Rp 10 juta. Saya cicil selama lima bulan," kata Rakhmat.
Setelah disepakati, tiba-tiba, Yoyo masuk ke ruangan kesekretariatan. "Dia langsung maki-maki saya. Dia bilang dia sudah ditagih," katanya.
Suasana makin memanas saat Yoyo menolak dibayar Rp 10 juta. Menurut Yoyo kekurangan uang Rp 40 juta.
"Saya gebrak meja, kenapa bisa jadi Rp 40 juta? Dia langsung memukul mata kanan saya sampai bengkak," ujar Rakhmat.
Setelah itu Rakhmat mengaku meninggalkan ruangan dan atas saran teman-temannya, ia langsung divisum dan langsung melaporkan kasus ini ke polisi.
"Saya enggak apa-apa soal ini (uang suap) terbongkar," ujarnya yang mengaku bukan kali ini saja ia memasukkan pegawai honorer melalui Yoyo.
"Saya sudah sering. Pegawai honorer di sini tidak ada yang murni dites, semua titipan," tandasnya.
Sementara dihubungi melalui telepon untuk konfirmasi, Yoyo tidak mengangkat maupun membalas SMS yang redaksi kirim.
(ern/tor)












































Laporan Polisi Rakhmat Hidayat (dok. Istimewa)