Usulkan 'Capres WNI Asli', Ini Penjelasan PPP

Usulkan 'Capres WNI Asli', Ini Penjelasan PPP

Elza Astari Retaduari - detikNews
Jumat, 07 Okt 2016 21:24 WIB
Usulkan Capres WNI Asli, Ini Penjelasan PPP
Foto: Danu Damarjati/detikcom
Jakarta - Rekomendasi Mukernas PPP tentang amandemen UUD 1945 agar syarat menjadi calon presiden harus WNI asli dianggap diskriminatif dan berbau SARA. Sekjen PPP Arsul Sani pun memberi penjelasan.

"Saya kira begini, Mukernas PPP jangan dilihat dari isu (calon) presiden yang ingin ditambahkan kata-kata asli atau tidak asli ke dalam UUD 1945," ungkap Arsul di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (7/10/2016).

Menurut Arsul, usulan capres harus 'WNI Asli' harus dilihat secara keseluruhan. Ia menyebut banyak masyarakat dari luar PPP yang ingin menyuarakan agar UUD 1945 kembali seperti sebelum diamandemen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berarti itu kan mengembalikan rumusan bahwa Presiden orang Indonesia asli. Ini banyak sekali (yang mengusulkan), termasuk purnawirawan TNI. Kenapa tidak dibilang SARA ketika mereka-mereka, beliau-beliau yang berkata itu," kata Arsul.

"Dalam bingkai lebih besar, amandemen keempat kali membawa kebijakan yang diterapkan liberal bahkan kebablasan. Termasuk pemerintah, yang tidak hanya pemerintah sekarang, juga pemerintah sebelumnya pak SBY," imbuh anggota Komisi III DPR itu.

Arsul pun menyebut, selama 10 tahun kebijakan-kebijakan SBY di bidang ekonomi bersifat liberal bahkan kebablasan. Ia pun protes terhadap pihak-pihak yang menganggap rekomendasi PPP itu berbau SARA.

"Kalau PPP atau kelompok Islam yang bicara selalu dibilang SARA. Tapi kalau yang lain, Ahok yang bicara, tidak dibilang SARA. Itu yg menjadi pertanyaan mendasar saya," sebut Arsul.

Masalah SARA disebutnya hanya tinggal persepsi setiap orang saja. Arsul mengatakan sepanjang masih dalam batas kesantunan dan tidak ada unsur anarkis, itu tidak bisa dikategorikan sebagai SARA atau diskriminatif.
"Sama halnya seseorang mengatakan terhadap Al Quran Surat Al Maidah bahwa orang muslim harus memilih pemimpin muslim itu harus dihormati, begitu juga sebaliknya," tuturnya menyindir Ahok.

"Kenapa yang bilang harus dibilang SARA, tetapi yang tidak harus bilang SARA. Jadi kita harus berimbang, fair. Jangan juga ada kepentingan politik dituduhkan SARA," sambungnya.

Selain soal WNI Asli, PPP juga merekomendasikan syarat capres harus muslim. Namun rekomendasi itu untuk internal PPP sendiri, berbeda dengan capres harus WNI asli yang menjadi masukan untuk UUD 1945.

Sejumlah politisi dari partai lain menilai rekomendasi PPP diskriminatif. Wasekjen PKB Daniel Johan bahkan menganggap usul itu berbau SARA.

"Bagi kami semua yang memiliki akar sejarah di Indonesia adalah warga Indonesia asli. Jadi suatu kemunduran kalau hari gini masih SARA," ucap Daniel, Rabu (6/10).


Halaman 2 dari 2
(ear/Hbb)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads