"Sampai saat ini LAPAN sudah menyimpan empat sampah antariksa yang bisa diidentifikasi," kata Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, di kantornya, Jalan Djundjunan, Kota Bandung, Jumat (7/10/2016).
Thomas mengatakan sampah antariksa pertama yang jatuh di Indonesia terjadi pada tahun 1981 silam. Serpihan roket yang jatuh di Gorontalo kala itu teridentifikasi objek milik Rusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peristiwa kedua, kata dia, pada tahun 1988 giliran Lampung yang menjadi pembuangan sisa-sisa roket milik Rusia. Kemudian pada tahun 2003 juga kembali jatuh lempengan pecahan roket milik Tiongkok yang bertamu ke Bengkulu.
"Semua kejadian itu kami respons cepat. Hanya beberapa menit berselang dari laporan warga, kami sudah bisa mengidentifikasi objek itu milik siapa," tutur dia.
Terbaru pada Senin (26/9) lalu, empat objek sampah antariksa jatuh di beberapa lokasi di Sumenep, Jawa Timur. Objek yang terdiri dari tiga tabung bahan bakar dan satu panel terminal power itu diidentifikasi berasal dari serpihan roket Falcon 9 milik SpaceX asal Amerika Serikat.
Thomas menyebut objek yang jatuh di Sumenep merupakan sampah antariksa terbanyak dan terbesar sepanjang sejarah. Sebab, sambung dia, beberapa kejadian-kejadian sebelumnya hanya berjumlah satu objek.
"Indonesia sangat berpotensi menjadi sasaran jatuhnya sampah antariksa. Setiap roket menuju antariksa pasti melewati ekuator. Indonesia merupakan negara yang memiliki ekuator terpanjang," ujar dia. (err/try)











































