Menanti Pisau Guillotine Hari Sabtu

Krisis Kabinet Belanda

Menanti Pisau Guillotine Hari Sabtu

- detikNews
Jumat, 01 Apr 2005 12:48 WIB
Den Haag - Nasib kabinet Belanda akan dipastikan Sabtu besok. Jika anggota partai mitra koalisi menolak meneruskan duduk di kabinet, maka kabinet definitif jatuh.Detak jarum jam menuju Sabtu besok (2/4/2005) mungkin menjadi dentuman yang menyiksa jantung PM JP Balkenende (CDA) dkk. Hari itu akan menjadi penentuan apakah kabinetnya bisa selamat atau akan rontok, demisioner, lalu kembali digelar pemilu. Soalnya pada hari itu, partai D66 yang menjadi mitra koalisinya, menggelar kongres anggota khusus untuk melaporkan hasil perundingan yang disebut sebagai Kesepakatan Paskah. Selanjutnya, ini bedanya dengan di Indonesia, anggota partai yang akan memutuskan apakah partai akan menerima kesepakatan itu dan tetap di kabinet atau keluar.Kesepakatan Paskah itu dicapai melalui perundingan maraton 11 jam yang digelar pada malam Paskah (26/3/2005) oleh partai pemerintah koalisi (CDA, VVD, D66) untuk mencari jalan keluar menyelamatkan kabinet, menyusul pengunduran diri Menteri Pembaruan Pemerintahan dan Wakil Perdana Menteri Thom de Graaf (D66).Kesepakatan Paskah itu merupakan kompensasi yang diberikan CDA dan VVD kepada D66, agar partai tersebut tidak meninggalkan kabinet. Tanpa dukungan D66 (6 kursi), kabinet akan jatuh, sebab sisa koalisi CDA (44 kursi) dan VVD (28 kursi) tidak mencapai separuh dari total 150 kursi parlemen. Itupun kursi VVD masih berkurang satu (27), karena anggotanya di parlemen (Geert Wilders) menyempal mendirikan fraksi perorangan.Apa isi Kesepakatan Paskah itu? Isinya antara lain mitra besar dalam koalisi (CDA, VVD) berjanji akan mendukung program D66 untuk pembaruan pemerintahan, amandemen konstitusi (Pasal 131, red) tentang sistem pemilihan walikota dari perwakilan menjadi langsung oleh rakyat, perubahan stelsel pemilu, penambahan anggaran pendidikan dan media. Namun para tokoh pendiri partai D66 dan pengurus di daerah sudah menunjukkan tidak bisa menerima isi kesepakatan itu. Mereka menilai seharusnya D66 meminta jaminan keras lebih dari itu, misalnya soal lingkungan. Tokoh pendiri, Hans van Mierlo, sudah menyatakan akan bersuara menolak dalam kongres. Van Mierlo menilai kesepakatan itu telah mengorbankan prinsip dan sebagai refleksi kelemahan D66 dalam berunding. "Sudah terbukti amandemen gagal di Majelis Tinggi, kok menerima kesepakatan itu," kata Van Mierlo.Komisaris Ratu dari D66, Boele Staal, menanggapi lebih keras. Ia menilai bahwa lebih baik bagi D66 jika keluar dari kabinet. Menurut Staal, janji pemberian anggaran ekstra untuk sektor pendidikan (program andalan D66) sudah merupakan keniscyaan. Tanpa ada janjipun akan terjadi, sebab Belanda malah menikmati untung besar dari tingginya harga minyak dunia yakni sebanyak 680 juta euro, setara Rp8,5 triliun. Windfall ini akan dialokasikan untuk sektor pendidikan, infrastruktur, dan kesejahteraan rakyat, per rumahtangga akan mendapat 200 euro (Rp 2,5 juta).Sementara itu D66 sudah menyiapkan skenario dengan menunjuk menteri pengganti De Graaf, yakni Alexander Pechtold, mantan walikota Wageningen. Sedangkan Menteri Ekonomi Laurens Jan Brinkhorst diplot merangkap Wakil Perdana Menteri. Namun jika kongres anggota D66 Sabtu besok memutuskan menolak di kabinet, maka semua skenario itu tidak akan berguna. Kabinet akan jatuh, demisioner, dan harus mengagendakan pemilu dalam tempo selambat-lambatnya 1 tahun. Artinya? Krisis kabinet Belanda sampai laporan ini ditulis masih terus berlanjut. JP Balkenende (CDA) kini dibayangi kejatuhan kabinetnya untuk kali ketiga dalam tempo kurang dari 3 tahun. Pisau guillotine kini menempel di leher kekuasannya. Tombol vonis ada di tangan anggota partai D66 yang akan menentukan nasibnya besok.Kita nantikan saja. (es/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads