SBY Menyebutnya Superstar, Agus: Saya Bukan Putra Mahkota

SBY Menyebutnya Superstar, Agus: Saya Bukan Putra Mahkota

Elza Astari Retaduari - detikNews
Jumat, 07 Okt 2016 16:38 WIB
SBY Menyebutnya Superstar, Agus: Saya Bukan Putra Mahkota
Agus Harimurti Yudhoyono (Foto: Dikhy Sasra)
Jakarta - Banyak yang menjuluki kandidat Cagub DKI Agus Harimurti sebagai putra mahkota Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono. Agus enggan disebut dengan julukan itu.

Agus disebut sebagai putra mahkota karena dianggap tengah disiapkan sebagai pengganti SBY yang selama dua periode menjadi presiden. Sama-sama berlatar belakang militer yang akhirnya ikut politik, mantan Danyon 203/Arya Kemuning itu diprediksi ikut pilgub untuk menuju Pilpres 2019.

"Yang menganggap putra mahkota mungkin yang lainnya yah. Perbincangan ini kan baru-baru aja. Awalnya kan kita punya dua karir yang berbeda. Putra mahkota itu kan dalam sebuah kerajaan, asosiasinya. Kita tidak, kita bukan keluarga kerajaan," ungkap Agus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal tersebut disampaikannya saat bertandang ke kantor redaksi detikcom, Jalan Warung Jati Barat Raya, Jakarta Selatan, Kamis (6/10/2016). Agus juga mengingatkan bahwa ia maju di Pilgub DKI sudah sesuai dengan mekanisme yang telah diatur undang-undang.

"Berhenti dari militer baru masuk pertandingan. Tidak boleh saat pertandingan baru balik lagi, gagal balik lagi kan tidak bisa. Istilah putra mahkota itu agak mengkhawatirkan," ucapnya.

"Itu istilahnya saya digrooming dari awal, disimpan baru keluar. Tidak seperti itu. Ketika ini terjadi justru saya membuktikan saya bukan putra mahkota. Bukan kalimat dari bapak itu," imbuh Agus.

Agus menegaskan bahwa ia sangat menghargai proses demokrasi. Juga semangat reformasi TNI yang telah mendarahdaging untuknya.

"Kalau putra mahkota takutnya nanti diasosiasikan dengan yang hal lain gitu," tukas dia.

Saat mengumumkan pengunduran dirinya dari TNI usah mendaftar sebagai cagub DKI, Agus sempat terlihat menahan tangis. Namun ia memastikan itu bukan karena ia menyesal atau terpaksa mengambil keputusan menanggalkan seragamnya.

"Bukan menyesal. Beda antara menyesal dengan terharu karena saya 16 tahun di militer. Tidak terbayangkan sebelumnya perubahannya terjadi begitu dramatis," urai Agus.

"Kemudian itu ketika saya masuk kepada bagian menyampaikan terimakasih saya kepada TNI, pimpinan, prajurit, saya terhenti di situ karena merasa terharu jadi langsung memikirkan mereka. Saya pikir itu natural dialami oleh siapapun yang mengalami lintasan seperti saya. Bukan menyesal dipaksa, karena ada kesan begitu," sambungnya.

Agus juga memastikan dirinya tidak dipaksa oleh keluarga atau sang ayah, Susilo Bambang Yudhyono sebagai Ketum Partai Demokrat. Sebab saat ia memilih masuk militer pun, kedua orangtuanya juga mendukung.

"Dikorbankan enggak. Tidak ada orangtua yang korbankan anaknya. Saya memilih menjadi taruna militer pilihan sendiri. 20 kemudian 2016 ini, tentu sudah semakin dewasa dengan kepribadian dan karakter yang kokoh. Tidak ada yang bisa memaksa saya, orangtua saya tidak pernah memaksa saya memilih jalan yang tidak saya kehendaki," tegas Agus.

Berbagai tudingan lain juga muncul dengan masuknya bapak satu anak itu ke dunia politik. Agus diprediksi hanya akan menjadi SBY generasi muda atau segala sesuatunya akan mirip dengan sang ayah.

"Yang bisa melihat mirip tidaknya orang lain. Tentu tidak lepas kita satu darah, gen-nya sama. Kalau ada kemiripan saya pikir sangat alami baik karakter atau hal hal lain. Tapi tidak ada satu orangpun yang sama persis. Yang pasti bapak selalu bilang SBY adalah SBY, AHY adalah AHY," beber Agus.

"Karena pasti masing-masing memiliki karakter dan cara pandang maupun gaya kepemimpinan yang unik. Saya tentu bangga menjadi putra seorang SBY, dia adalah mentor saya," tambah dia.

Agus pun maklum jika ada tanggapan positif maupun negatif terhadap kemunculannya di Pilgub DKI. Termasuk adanya tudingan ia hanya akan menjadi pimpinan boneka yang diatur-atur oleh SBY.

"Bagaikan dalang terhadap wayangnya. Saya katakan tidak. Justru ini ditegaskan oleh bapak. Dia sering katakan kepada saya 'you are the superstar', jadi artinya superstar itu saya adalah saya. bukan berarti harus menunggu petunjuk arahan," kisah Agus.

Meski memiliki hubungan bapak dan anak, suami Annisa Pohan itu mengatakan ia dan SBY tetap profesional dalam hal pekerjaan. Ini terbukti saat SBY masih menjadi presiden, Agus sebagai prajurit TNI tetap meniti karier dari bawah.

"Tentu setiap orang inginkan mentor, layaknya mentor ditanya pandangannya. Bayangkan dulu saya aktif di militer he is My comammder-in-chief. Panglima tertinggi saya," sebutnya.

"Tetapi saya memposisikan diri secara profesional. Saya tidak pernah diintervensi karier, maupun jabatan di TNI. Kita tahu etikanya," Agus menambahkan.

Mantan perwira berpangkat Mayor di TNI ini pun meyakini, masyarakat pasti memahami bahwa semua orangtua menginginkan anaknya sukses. Meski begitu, kata Agus, tak ada orangtua yang ingin anaknya menderita.

"Pada prinsipnya, orangtua ingin anaknya sukses. Apalagi tahu bahwa si anak sudah melakukan keputusan yang tidak mudah. Tapi sekali lagi tidak pernah ada keinginan mengatur saya, memaksa saya apalagi menyetir saya untuk melakukan sesuatu karena keinginan bapak selaku orangtua," tandas cagub yang diusung oleh empat partai itu. (elz/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads