Cerita Bupati Anas Benahi Banyuwangi: e-Village Hingga Smart Kampung

Cerita Bupati Anas Benahi Banyuwangi: e-Village Hingga Smart Kampung

Nathania Riris Michico - detikNews
Jumat, 07 Okt 2016 11:16 WIB
Cerita Bupati Anas Benahi Banyuwangi: e-Village Hingga Smart Kampung
Foto: Bupati Anas saat ikut Tradisi Kebo-Keboan di Banyuwangi (Ardian Fanani/detikcom)
Jakarta - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menjadi pembicara dalam acara Indonesia Knowledge Forum 2016 di Jakarta. Dalam acara tersebut, pria yang akrab disapa Anas ini berbagi cerita soal pencapaiannya memimpin Kabupaten Banyuwangi.

"Strategi kebijakan Kabupaten Banyuwangi itu ada 4 elemen, yaitu bagaimana menunjang daya saing daerah, kita punya intitusi kelembagaan yang kuat, regulasi mendukung lingkungan bisnis yang sehat, modal sosial, dan kolaborasi penguatan ekonomi. Kita semua kerja keras dan gotong royong, ini yang penting," kata Bupati Anas dalam seminar di Ballroom Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta Selatan, Jumat (07/10/2016).

Anas menceritakan bahwa dirinya mulai membenahi Banyuwangi dari nol, dari yang tadinya sarat akan konflik menjadi salah satu daerah yang aman dari konflik di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami bukan Bandung, kami daerah kecil dan harus melakukan sesuatu dari nol. Kami komunikasi dengan setiap elemen masyarakat, kami setiap 3 bulan bertemu dengan pendeta dan kyai di Banyuwangi. Bahkan (saat ini) diplomat-diplomat senior dari Amerika datang ke Banyuwangi dan kita dapat stempel salah satu dari 40 Kabupaten yang aman, tidak ada konflik di dunia," kata Anas disambut tepuk tangan peserta seminar.

Dalam aspek pengelolaan keuangan, Anas yang menjabat sejak 21 Oktober 2010 itu mengatakan sangat cermat mengawasi penggunaan dana di setiap sektor dan juga mengelola dana APBD dengan melatih penggunaan e-village budgeting di pemerintahannya khususnya di desa.

"Kita menggandeng BPS dan perbankan dalam mengelola data. Kita juga terus berupaya mengendalikan inflasi di Banyuwangi dan terbukti bahkan minggu ini Banyuwangi menjadi daerah dengan inflasi terendah di Indonesia, lalu yang kedua di Purwokerto," lanjut bupati berusia 43 tahun itu.

Apabila ada masalah, Anas membiasakan cukup diselesaikan lewat media sosial whatsapp atau dengan membuat pertemuan rutin dengan pemuda dan masyarakat setempat sebagai wadah sharing tanpa suasana formal.

Baca juga: Cara Cepat Bupati Anas Tangani Aduan Warga via Medsos

Kebijakan lain adalah adanya Program Bedah Rumah. Program ini dikhususkan bagi penduduk yang memiliki rumah bukan hak milik. Setiap kebutuhan rumah seperti kasur dan lainnya akan disokong oleh pemkab.

Selain itu, Anas juga 'memamerkan, program unggulannya yaitu Smart Kampung yang didesain untuk warga kampung atau dusun untuk 'siap' ke kota.

"Kita juta ada Smart Kampung, kalau Pak Ridwan Kamil punya Smart City, saya bikin Smart Kampung. Nah tapi kalau Smart City udah biasa, kalau kampung yang smart jadi beda, jadi penting," ujar Anas.

Baca juga: Menkominfo: Smart Kampung Bisa Jadi Prototipe Peningkatan Pelayanan Publik

"Maka kami pengen desa kami, kampung kami jadi smart. Nah kita bikin ada wifi di di dusun, bagaimana orang desa yang tidak mengerti teknologi jadi ngerti, yang engga mengerti internet jadi ngerti. Bagaimana perubahan yang terjadi luar biasa ini, coba search Smart Kampung maka akan kebuka Banyuwangi, kalau Smart City yang kebuka Bandung," terangnya kembali disambuk tepuk tangan peserta seminar.

Anas juga menjelaskan sistem fast response dan UGD Penanganan Kemiskinan yang baru diberlakukannya di desa-desa. "Kita buat kecepatan proses pengambilan keputusan lewat media sosial, kita ada fast respon maskimal 4 jam dan ada UGD penanganan kemiskinan," ujarnya.

"Kita siapkan ambulans 24 jam tapi ada yang engga mau pakai ambulans katanya 'sumuk' ya jadi kita siapkan mobil bak juga. Ini swadaya dan inovasi," lanjut Anas.

Program lainnya yang tak kalah adalah 'Lahir Procot, Pulang Bawa Akte'. Program ini memastikan setiap ibu yang baru melahirkan bisa langsung mengurus dan mendapat akte kelahiran anaknya sewaktu pulang ke rumah.

Anas juga menyiapkan sekolah pilot negeri dan Politeknik Negeri Banyuwangi untuk mendukung pendidikan lepas SMA di sana.

Masih ingin tampil beda, Desember nanti Banyuwangi akan meresmikan bandara 'alami' yang menjadi The First Green Airport di Indonesia. Bandara ini tidak memiliki AC dan mengandalkan suhu dari kolam dan sirkulasi alami serta pencahayaan alami. Ruang tunggu terbuat dari kayu-kayu daur ulang yang pastinya menghemat energi dan membuat suasana sejuk.

"Ada juga Banyuwangi mengajar yang kita kirim anak-anak cerdas ke desa-desa kecil dan ini semua anak yang tidak berpunya. Tapi kita bangga bisa membuat anak-anak cerdas ini mau membangun pendidikan di desa-desa di Banyuwangi," tuturnya.

Anas mempresentasikan hasil kerjanya itu selama hampir 2 jam kepada para peserta seminar dan berulang kali mendapat pujian dan tepuk tangan atas kinerjanya tersebut.

(miq/miq)


Berita Terkait