"Untuk elektabilitas head to head, elektabilitas Ahok-Djarot lebih tinggi saat berhadapan dengan Agus-Sylvi dibanding saat berlawanan dengan Anies-Sandi. Dalam simulasi head to head, elektabilitas Ahok-Djarot sebesar 48,5% sedangkan Agus-Sylvi 31,8%. Namun apabila head to head dengan Anies-Sandi (36.2%), maka elektabilitas Ahok-Djarot sebesar 46,8%," kata Peneliti Populi Center Nona Evita dalam konferensi pers di Kantor Populi Center di Hl Letjend S. Parman, Slipi, Jakarta Barat, Kamis (6/9/2016).
Survei dilakukan pada tanggal 25 September - 1 Oktober 2016 dengan sampel 600 responden menggunakan multistage random sampling. Margin of error +/- 4 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Responden dipilih secara bertingkat, dengan wawancara tatap muka di 120 RT, di 60 kelurahan di 6 wilayah DKI Jakarta di Jakut, jaksel, Jakpus, Jakbar, Jaktim, dan Kepulauan Seribu. Untuk menjamin distribusi sampel yang memadai, setiap kelurahan terpilih, dialokasikan 10 responden dari dua RT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Survei ini juga mengukur sosok cagub dan cawagub DKI yang dikehendaki warga Jakarta. Tiga kriteria utama dari masyarakat DKI Jakarta dalam memilih Gubernur dan Wakil Gubernur diantaranya bersih dari korupsi (30,2%), tegas (30%), dan merakyat (21,8%).
"Kesepuluh, pemilih DKI Jakarta tidak menghiraukan isu SARA. Hal ini terbukti dari data yang menunjukkan bahwa masyarakat penganut agama Islam paling banyak memilih pasangan Ahok-Djarot (42,5%). Sementara itu, untuk masyarakat dengan preferensi partai pengusung calon tertentu, cukup loyal dengan pilihan tokoh yang diusung partai pilihannya," katanya.
"Sebagai contoh, masyarakat dengan preferensi partai PDIP dan Golkar paling banyak memilih Ahok-Djarot. Begitupula dengan masyarakat yang memilki preferensi partai Demokrat, paling banyak memilih pasangan calon Agus-Sylvi, dan masyarakat dengan preferensi partai Gerindra paling banyak memilih Anies-Sandi. (van/fjp)











































