Menag: Pilih Kepala Daerah Harus Lihat Program Kerja, Bukan Isu SARA

Menag: Pilih Kepala Daerah Harus Lihat Program Kerja, Bukan Isu SARA

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Kamis, 06 Okt 2016 13:29 WIB
Menag: Pilih Kepala Daerah Harus Lihat Program Kerja, Bukan Isu SARA
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mewanti-wanti agar tidak ada unsur SARA selama masa kampanye Pilkada serentak 2017. Menag mengimbau agar warga melihat program dan visi misi para calon kepala daerah, bukan latar belakang suku dan agamanya.

"Ya intinya adalah Pilkada bagaimanapun juga jangan sampai, tentu setiap Pilkada kan ada perbedaan-perbedaan, ada lebih dari satu pasangan calon yang akan tampil. Sehingga masing-masing calon memiliki visi misinya, memiliki program-programnya tersendiri," kata Lukman usai Rapat Koordinasi Nasional Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) se-Indonesia di Kantor Kemendagri, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (6/10/2016).

Lukman menjelaskan, pemerintah sangat berharap isu SARA tidak digunakan untuk menjatuhkan lawan politik dalam Pilkada serentak. Apalagi, isu SARA justru berpotensi menimbulkan gesekan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita semua pemerintah menghimbau agar hak pilih yang digunakan masyarakat itu digunakan betul-betul dengan bertanggung jawab, dan bentuk tanggung jawab itu dengan melihat mana yang terbaik di antara program-program yang diajukan tanpa harus selalu melihat persoalan-persoalan yang sifatnya patrianilistik atau persoalan yang sifatnya primordial," jelas Lukman.

"Utamakan untuk menilai program-programnya apa yang betul-betul dibutuhkan sesuai yang dengan msalah yang dihadapi daerah itu sendiri," imbuhnya.

Menag mengungkapkan, latar belakang agama dan suku memang mau tak mau akan mempengaruhi pilihan rakyat. Namun, alangkah lebih baiknya bila pemilih lebih menitikberatkan pada program yang ditawarkan.

"Menurut saya yang perlu kita kedepankan karena juga kita juga tidak bisa menutup masyarakat untuk memiliki preferensi untuk pilihan-pilihan itu, tapi juga berdasarkan faktor-faktor, misalkan agama menjadi salah satu faktor, lalu etnis, dan sebagainya. Itu suatu yang lazim, tapi kita semua mengajak program itu menjadi sesuatu yang penting untuk menjadi dasar kita menentukan menggunakan hak pilih kita," tegas Lukman.
(Hbb/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads