"Kalau mau menutup itu dengan alasan apa. Wong di sini ya salat lima waktu. Selain salat lima waktu ya zikir, istighfar, baca salawat, baca Al Aquran, kok mau ditutup," kata Muslih kepada detikcom detikcom di Padepokan Dimas Kanjeng di Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Rabu (5/10/2016).
Muslih mempertanyakan munculnya anggapan dari banyak pihak yang menyebut terjadi penyimpangan dalam padepokan. Menurut dia, padepokan juga didatangi warga non muslim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang dinistakan agamanya itu apa? Maka pertanyaan dipulangkan saja ke sana yang menyampaikan fatwa," tutur Muslih.
Menurut pria asal Jember yang dipanggil ustaz ini, Taat Pribadi merupakan muslim. Di Padepokan Dimas Kanjeng, Taat Pribadi juga selalu mengingatkan para santri untuk melaksanakan salat berjamaah.
"Jangan sampai tidak berjamaah karena rugi. Beliau selalu menyampaikan ke santri. Beliau kalau ada santri muslim tidak salat, marah Kanjeng itu. Betul, Kanjeng marah kalau ada muslim tidak salat," terangnya.
Selain itu Taat Pribadi dianggap sebagai sosok yang rendah hati juga baik terhadap para santri.
"Beliau juga salat dan sering menjadi makmum. Kanjeng itu betul nggak fasih (membaca Arab). Nggak pernah menjadi imam," ujar Muslim menegaskan.
Aktivitas di lingkungan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi (Foto: Rois Jajeli-detikcom) |
Muslih membantah Taat Pribadi melakukan penggandaan uang. Isu tersebut menurutnya hanya provokasi. "Kalau di sini bukan penggandaan. Ganda kan maknanya lebih dari satu. Di sini nggak ada uang. Maka bahasa ini hati-hati. Ini kan membikin provokasi di luar," jelasnya.
"Di sini disebut santri. Kalau di luar (padepokan) disebut sawi atau apalah terserah, kan sekedar julukan," imbuh Muslih.
Para pengikut Dimas Kanjeng ini yakin, mereka yang tinggal di 'pemondokan' tidak akan diusir dari area Padepokan Dimas Kanjeng.
"Nggak ada, nggak mungkin terjadi. Ini bumi pribadi. Yang membeli kami-kami orang, bukan uang negara. Ini ada notarisnya komplit penuh. Tujuannya jelas," jelasnya.
Karena itu para santri menegaskan tetap tidak mempercayai bila Taat Pribadi melakukan tindak pidana pembunuhan dan penipuan seperti yang disangkakan Polda Jatim.
"Sama-sama dibuktikan saja. Insya Allah 'Yang Mulia' tidak terbukti itu. Nggak akan terbukti. Kalau sekedar sejarah cerita ya banyak. Tapi endingnya dimana, monggo sama-sama kita lihat," ujar Muslih.
(roi/fdn)












































Aktivitas di lingkungan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi (Foto: Rois Jajeli-detikcom)