Pasangan yang hampir dipastikan lolos ke putaran selanjutnya adalah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) - Djarot Saiful Hidayat yang diusung PDIP, Golkar, NasDem, dan Hanura.
"Jarang sekali incumbent kalah di putaran pertama. Saya ragu Ahok-Djarot tidak lolos ke putaran selanjutnya, karena Ahok-Djarot masih memiliki hard voters dari sisi demografi dan kinerja," kata Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, kepada wartawan di Restoran Bumbu Desa, Cikini, Jakarta, Rabu (5/10/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dua kandidat itu (Anies-Sandi dan Agus-Sylvi) yang suaranya bisa saling memakan satu sama lain selama visi-misi dari kedua pasangan itu belum jelas," kata Rico.
Suara dari pasangan calon yang kalah di putaran pertama akan berpotensi menjadi pendukung untuk melawan Ahok-Djarot. Tetapi, kans Ahok-Djarot kalah di putaran ke-2 masih sangat terbuka.
"Terlihat dari pasangan selain Ahok-Djarot kalau dijumlahkan sekitar 46 persen, tidak termasuk yang undecided, ini berpotensi untuk mengalahkan Ahok-Djarot di putaran ke-2 jika pilkada berjalan 2 putaran," lanjut Rico.
Dari hasil survei Median, 3 pasangan kandidat, pasangan Ahok-Djarot memuncaki peringkat dengan elektabilitas 34,2 persen. Peringkat kedua diisi oleh Anies-Sandiaga dengan elektabilitas 25,4 persen. Kemudian di posisi ketiga ada Agus-Sylviana dengan elektabilitas 21,0 persen. Responden yang belum menentukan pilihan sebesar 19,4 persen.
"Bila tren elektabilitas berlanjut seperti sekarang setidaknya Pilkada bisa terjadi dalam dua putaran dan Ahok bisa kesulitan untuk menang di putaran kedua," tutup Rico. (van/van)











































