"Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Juga ada teman-teman dari Jawa Barat," kata Hasmiaty saat bincang-bincang dengan detikcom di 'pemondokan' Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Rabu (5/10/2016).
Ia menceritakan, saat itu Kanjeng mengambil garam dan dimasukkan ke dalam tas kresek. Kemudian, tas kresek berisi garam diletakkan di atas piring. Piring tersebut ditutup dengan sajadahnya. Saat ditarik sajadahnya itu, di atas piring tersebut isinya menjadi berbagai macam batu permata hingga perhiasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
'Kehebatan' Dimas Kanjeng Taat Pribadi itu juga pernah disampaikan ke suaminya. Suaminya juga mendukung Hasmiaty untuk menjadi 'santri' di Padepokan Dimas Kanjeng.
"Suami mengijinkan sekali. Karena dia tahu perjuangan saya seperti apa. Karena dia juga pernah mencari barang-barang antik," ujarnya.
"Makanya saya bilang (ke suaminya). Kalau mau mencari barang antik di sini (Dimas Kanjeng) semua ada. Di sini ada merah delima, ada apa apa saja yang kita minta ada di sini," terangnya sambil menambahkan, selain mendapat dukungan dari suami, juga kelima anaknya.
"Cuman itu yang kita pakai belum bisa dijual. Walaupun kalau mencari di ujung dunia tidak ada. Itu pembohongan. Makanya saya (ke suaminya) bilang, hentikan itu. Orang habis-habisan mencari barang antik. Tidak ada itu," terangnya.
"Kalau bapak mau tahu, datang ke sini dan lihat, ada disini semua. Tapi barang disini belum waktunya dijual. Ada waktunya nanti," jelasnya sambil menambahkan, suaminya belum pernah ke Padepokan Dimas Kanjeng.
"Kalau ke sini siapa jaga anaknya. Biarlah dia di sana berjuang, saya berjuang di sini. Tujuan perjuangan ini untuk kemaslahatan umat, tidak hanya di Indonesia saja tapi dunia," tandasnya.
(roi/rvk)











































