Mereka yang Bertahan di Padepokan, Tunggu Uang Saku hingga 'Titah' Dimas Kanjeng

Mereka yang Bertahan di Padepokan, Tunggu Uang Saku hingga 'Titah' Dimas Kanjeng

Rois Jajeli - detikNews
Rabu, 05 Okt 2016 12:27 WIB
Mereka yang Bertahan di Padepokan, Tunggu Uang Saku hingga Titah Dimas Kanjeng
Pertemuan polisi dan Pemkab Pasuruan dengan pengikut Dimas Kanjeng, Selasa 4 Oktober 2016 (Foto: Rois Jajeli/detikcom)
Probolinggo - Ada banyak kejanggalan pada sosok Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Aksi 'menggandakan' uang belum terbukti sejauh ini. Juga tak ada barang berharga di padepokan. Namun semua itu tak membuat semangat pengikut surut.

Rabu (5/10/2016), ratusan pengikut Dimas Kanjeng terus bertahan di padepokan di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Jumlah mereka naik turun. Minggu lalu hanya 81 orang, tapi kemarin jumlah mereka menjadi 276 orang.

Para pengikut di sekitar Probolinggo biasa pulang pergi. Mereka datang ke padepokan dengan mengendarai sepeda motor, kemudian menempati tenda-tenda area kompleks padepokan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Puluhan pengikut asal Pasuruan sempat dijemput polisi dan Pemkab. Namun mereka menolak pulang. Dalihnya, mereka akan pulang sendiri-sendiri.

Tak banyak yang mau bicara soal penilaian mereka terhadap Dimas Kanjeng setelah aksi pembunuhan Abdul Gani dan dugaan penipuan penggandaan uang terbongkar. Namun jelas terlihat, mereka masih hormat pada pria yang bernama asli Taat Pribadi itu. Yang Mulia, demikian mereka menyebut Dimas Kanjeng.

Foto: Rois Jajeli/detikcomFoto: Rois Jajeli/detikcom

"Kami mau dipulangkan kalau diberi uang banyak," kata perempuan asal Situbondo yang enggan disebut namanya kepada detikcom. Perempuan ini mengaku pedagang sapi. Usahanya bangkrut, lalu bergabung ke padepokan.

Ungkapan sedikit berbeda disampaikan pengikut lain. "Kami akan pulang sendiri-sendiri. Tapi menunggu perintah Yang Mulia atau Bu Marwah (Daud Ibrahim)," tutur Nizar, warga Pasuruan.

Polisi melakukan rekonstruksi kasus pembunuhan eks pengikut, Abdul Gani, di padepokan, Senin (3/10). Dari adegan terlihat, Dimas Kanjeng terlibat dalam kasus itu. Di hari yang sama, polisi menggeledah rumah utama Dimas Kanjeng. Hanya ada uang Rp 4,6 juta dan sedikit perhiasan. Uang yang menumpuk sebagaimana diupload di situs YouTube, nihil.

Jika tak ada uang banyak di padepokan, mengapa para pengikut masih bertahan dan berharap uang saku? Jika benar Dimas Kanjeng terlibat pembunuhan, apa yang membuat pengikut tetap setia?


(try/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads