"Saya dari Polres Pasuruan bersama forum pimpinan Pemda Pasuruan untuk menjemput warga dari Pasuruan, pulang kembali ke rumah," kata Kompol Subadar dari Polres Pasuruan saat menemui pengikut Dimas Kanjeng di pemondokan 24, Selasa (4/10/2016).
Kompol Subadar yang didampingi Yudha dari Bakesbanglinmas Pemkab Pasuruan, Camat Gading Slamet Hariyanto, Kapolsek Gading Probolinggo, berusaha membujuk pengikut Dimas dari Pasuruan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau seperti ini kan tidak jelas kelanjutannya. Sementara ini ditunggu saja di rumah," katanya.
Nizar warga Kraton, Kabupaten Pasuruan mengatakan, sebetulnya 'santri' di pemondokan juga tidak ingin terus-menerus tinggal di padepokan.
"Sebetulnya kami juga tidak ingin terus-terusan di sini. Kami menunggu perintah dari guru besar, ketua yayasan bu Marwah atau jubir," ujar Nizar.
Foto: Rois Jajeli/detikcom |
"Pak Rozali ini mau pulang nanti naik motor. Saya juga pulang, kalau nggak besok ya lusa. Saya bawa sepeda motor," ujarnya.
Polisi tetap berusaha meminta warga Pasuruan itu pulang dan dinaikkan bus yang sudah disediakan.
"Kalau bareng semua, kami dikira apa nanti. Kami sangat berterima kasih atas kepedulian bapak-bapak semua. Kalau nanti dipulangkan bersama, nanti pandangan masyarakat bagaimana," terang Nizar sambil menambahkan, jika ingin pulang, harus pamit terlebih dahulu ke Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng, Marwah Daud Ibrahim.
Selama di padepokan, mereka tinggal dan untuk kebutuhan makan sehari-hari dengan cara swadaya penghuni pemondokan.
"Ya urunan dan dimasak bareng-bareng. Kalau kekurangan beras, minta ke padepokan," jelasnya.
Ia menambahkan, penghuni pemondokan secara bergantian tinggal dan berjaga.
"(Bergantian) paling seminggu tinggal di sini atau paling lama 10 hari tinggal di sini," ujarnya.
"Kami di sini untuk menjaga barang-barang teman yang masih ada di sini. Ada yang dari Madura, dari Jawa Tengah. Setelah pulang, nanti bergantian jaga di sini," katanya sambil menambahkan, penjagaan pemondokan itu sesuai kesepakatan penghuni pemondokan.
Sejak penangkapan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, mereka yang mengaku santri sudah tidak ada yang mengkoordinir. Namun, mereka tetap 'setia' menunggu perintah dari Dimas Kanjeng Taat maupun Marwah Daud.
"Selama di sini ya istighosah, dzikir di masjid," tandasnya pria yang berkacamata dan mengakui punya usaha perdagangan, yang sekarang ini dibantu dijaga oleh mertuanya.
Sebelumnya, ada 32 pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi dari Pasuruan yang hendak dipulangkan, tapi mereka tetap tidak mau diajak pulang berbarengan, dan memilih pulang sendiri-sendiri. (roi/try)












































Foto: Rois Jajeli/detikcom