"Di keluarga dia memang dikenal bandel," ujar Maman, di rumahnya Jl M Yusup I, Gang H Naim nomor 9, RT 01, RW 21, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya, Depok, Selasa (4/10/2016).
Menurut Maman, sebelum ada kasus ini, keluarga Anton pernah menjual motor untuk menutupi perbuatan pria yang memiliki 4 orang istri tersebut.
Rumah kontrakan Anton (Bartanius/detikcom) |
Karena itu, wajar saja bila saat polisi menangkap Anton, keluarganya terlihat cuek. Keluarganya bersembunyi saat polisi datang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anton, lanjut Maman tidak pernah bergaul dengan tetangganya. Dia hanya mengobrol dengan teman-temannya yang main ke rumahnya sambil minum kopi dan main ponsel.
"Sebelumnya ada dua orang temannya. Temannya itu sudah 3 kali main ke sini. Si Anton ya ngobrolnya sama dia saja," ucap Maman.
Melihat kelakuan Anton yang membunuh pengikut di Padepokan Satrio Aji, Depok, Maman sebagai kerabatnya mengaku kecewa. Namun selama ini dia tidak mengetahui kelakuan Anton tersebut.
"Kecewa juga kita. Kalau tahu mah kita gebukin duluan tuh. Kemarin pas ditangkap di sini warga pada bilang 'bakar aja bakar'," tutur dia.
Anton membunuh 2 orang pengikutnya yakni Ahmad Sanusi dan Shendy dengan kopi berisi racun potasium sianida. Racun itu dibelinya di Pacitan. Dia telah merencanakan pembunuhan itu beberapa hari sebelum mengeksekusi korban.
Anton membunuh lantaran kerap ditagih uang 'investasi' penggandaan emas oleh kedua korban. Anton mengaku dapat menggandakan emas. Namun setelah dicek, emas tersebut palsu.
(nwy/trw)












































Rumah kontrakan Anton (Bartanius/detikcom)