Para perangkat desa, yang belum pernah kuliah, akan menjalani masa studi selama empat tahun di Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy, Genteng, Banyuwangi. Mereka nantinya akan mendapat gelar Sarjana Sosial (S.Sos).
"Mereka akan ada di Fakultas dakwah prodi pengembangan masyarakat Islam. Akan menjalani 148 SKS," kata Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru IAI Ibrahimy, Emi Hidayati saat perkuliahan perdana di Banyuwangi, Selasa (4/10/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Kartika ST/detikcom |
Para aparat desa yang terdiri dari berbagai usia ini dibiayai oleh desa masing-masing selama masa studi. Biaya perkuliahan sebesar Rp 10 juta hingga lulus dibebankan kepada anggaran desa yakni anggaran untuk memperkuat aparatur desa.
"Nanti mereka belajar ilmu pemerintahan desa, itu sekitar 40 persen. Mulai dari sejarah desa, psikologi komunikasi, tata kelola pemerintahan, manajemen masyarakat, strategi perencanaan, strategi pembangunan, dan sebagainya," ujar Emi.
Jadwal perkuliahan, kata Emi, sudah disepakati dan diatur sehingga tidak mengganggu jam bekerja para peserta didik yang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS).
"Hari perkuliahannya sudah disepakati Kamis, Jumat dan Sabtu. Sistem kuliah, sistem SKS penuh jadi kalau IP-nya tinggi, bisa ambil SKS maksimal," imbuh Emi.
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas hadir dan memberikan sambutan pada perkuliahan perdana ini. Pria yang akrab disapa Anas itu, berharap tujuan dari pemberian beasiswa kepada perangkat desa ini dapat dicapai.
Foto: Kartika ST/detikcom |
Anas mencontohkan saat dirinya terlibat dalam sebuah acara dengan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil yang kala itu memamerkan Smart City. Tidak mau kalah, Anas pun menyebut Banyuwangi punya hal yang juga baik.
"Kalau di sini kita punya smart kampung. Jadi perangkat kampung juga harus cerdas. Termasuk dengan kuliah seperti ini," kata Anas dalam sambutannya.
Pemkab Banyuwangi dalam hal ini juga menggandeng Institute for Research and Empowerment (IRE). IRE akan menjadi penyedia modul bahan perkuliahan.
"Mensinergikan dengan pemerintah, LSM pendamping (IRE). Sekolah desa menurut saya keren, modulnya dengan sistem praktik langsung," tandas Anas. (kst/trw)












































Foto: Kartika ST/detikcom
Foto: Kartika ST/detikcom