"Saya nggak tahu Anton. Orang sini nggak ada yang tahu sama sekali. Saya lihat orangnya juga baru kemarin pas ditangkap," ujar tetangga Anton, Ngadimin di depan rumah Anton, Gang Haji Naim Nomor 9, RT 1 RW 5, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya, Depok, Selasa (4/10/2016).
Tetangga tidak mengenal Anton (Bartanius/detikcom) |
Menurut Ngadimin, Anton kesehariannya jarang bersosialisasi dengan tetangga. Karena itu tidak ada yang tahu pekerjaan Ngadimin.
"Sore sampai malam dia kerja. Pagi pulang terus nggak keluar lagi," kata Ngadimin.
Rumah kontrakan digaris polisi (Bartanius/detikcom) |
Selain soal keseharian Anton, Ngadimin juga tidak mengetahui jika Anton merupakan pimpinan Padepokan Satrio Aji. Ngadimin baru mengetahui profesi Anton itu saat ditangkap polisi Minggu (2/10/2016) lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pantauan, pintu rumah kontrakan Anton yang berwarna kuning dikunci. Sebuah garis polisi mengelilingi pintu rumah tersebut. Sedangkan sebelah pintu rumah Anton yang berwarna putih ditinggali saudaranya. Namun pintu rumah tersebut juga terkunci.
Pintu bercat putih milik saudara Anton (Bartanius/detikcom) |
Anton membunuh 2 orang pengikutnya yakni Ahmad Sanusi dan Shendy sekaligus dalam satu hari dengan kopi racun potasium sianida. Racun itu dibelinya di Pacitan. Dia telah merencanakan pembunuhan itu beberapa hari sebelum mengeksekusi korban.
Anton membuang jasad keduanya di dua titik di kawasan Limo, Depok. Dia melakukan hal itu lantaran kerap ditagih uang 'investasi' penggandaan emas oleh kedua korban.
Bartanius/detikcom |
Selain membunuh, Anton juga mengaku dapat menggandakan emas dan uang dengan ilmu hitam. Anton sudah memiliki pengikut lewat Facebook. (nwy/trw)












































Tetangga tidak mengenal Anton (Bartanius/detikcom)
Rumah kontrakan digaris polisi (Bartanius/detikcom)
Pintu bercat putih milik saudara Anton (Bartanius/detikcom)
Bartanius/detikcom