"Saya benar terima telepon dari Pak Irman. Saya tidak ingat kapan. Beliau bilang setelah saya pulang kampung di sumbar. Ada Pak Presiden. Sebulan itu dia telepon kalimatnya saya tidak ingat. Yang saya ingat gambaran yang digambarkan. Beliau baru pulang dari Padang. Kedua mengatakan bahwa harga gula mahal sekali. 16-17 ribu. Beliau mengatakan bisa nggak Bulog bertindak," kata Djarot dalam rapat dengan Tim 10 DPD RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (4/10/2016).
Djarot pun menyebut dirinya sempat dikenalkan dengan seseorang bernama Memi. Memi ialah istri Direktur Utama CV Semesta Berjaya Xaveriandy, yang menjadi tersangka dalam operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. OTT ini juga menjaring Irman, Ia pun kini berstatus tersangka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ingin memastikan Ibu Memi kenal Pak Irman dimana dan keperluannya apa latar belakang perkenalan ibu dengan Pak irman. Kedua saya pengen dapat info apakah ibu pengusaha atau orang yang baru datang. Kebetulan saya pernah dinas di Sumbar. Dari komunikasi saya tangkap ibu ini pengusaha bahan pangan pokok," sambung dia.
Selanjutnya, kata Djarot Ia menelepon Kadiv Bulog Sumbar. Ia menanyakan perihal apakah Memi pernah menghubungi dirinya atau tidak.
"Saya sampaikan pertama menanyakan ke Kadiv Bulog Sumbar, apakah saudara kenal Memi?, kenal. Siapa dia. Dia pengusaha bahan pokok. Dia ada hubungan apa dengan Bulog. Dia lagi daftar ikut distributor gula. Memang dia usaha gula. Kalau enggak salah dia salah satu terbesar di Sumbar," bebernya.
Setelah itu, Irman kemudian menelepon Djarot kembali pada Juni 2016. Djarot mengungkapkan Irman menanyakan beberapa hal terkait impor gula.
"Tambahan lagi saya ingin sampaikan dari data yang saya ambil. CV Semesta Berjaya tanggal 30 juni 2016 memasukkan permohonan pembelian gula eks impor yang dimiliki Bulog. Seingat saya setelah tanggal 6 atau 7 juli saya ditelpon Pak Irman. Pertanyaannya kenapa Meni sudah daftar tanggal 30 kok tidak dilayani karena belum ada juklak (petunjuk pelaksana). (Saya Jawab) Karena pada tanggal itu Bulog belum punya gula impor. Gula baru masuk tanggal 20 Juli," ungkap Djarot.
"Kalaupun divisi saya diteken untuk mengeluarkan tidak ada yang bisa dikeluarkan. Gula masuk gudang tanggal 20 juli. Tindaknlanjut dari divre Padang kemudian dikirim surat ke Divisi Regional DKI pada 25 juli. Lama karena ada syarat," imbuhnya
Sebelumnya Irman Gusman mengaku tidak menggunakan pengaruhnya sebagai Ketua DPD saat itu agar Sumbar mendapatkan kuota gula impor. Dia juga membantah berkongkalikong dengan Xaveriandy Sutanto selaku distributor gula impor tersebut.
"Enggak, enggak, saya tidak punya kewenangan. Saya tidak berpengaruh, saya hanya mengartikulasikan harga di Padang itu waktu saya kunjungan kerja tinggi, Rp 16.000 harusnya Rp 14.500. Tugas sebagai anggota dewan itu yang saya laksanakan," ucap Irman di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (4/10/2016
"Sebagai wakil rakyat di sana karena ada krisis gula menjelang lebaran. Saya mengambil inisiatif karena saya tahu Bulog melakukan operasi supaya harga itu kembali normal kan itu maksudnya," imbuhnya.
Irman mengakui meminta tambahan distribusi gula ke Sumbar. Namun dia membantah adanya kongkalikong dengan Xaveriandy Sutanto yang nantinya sebagai distributor gula impor itu di Sumbar.
"Iya jadi maksudnya harus ada intervensi ke pasar supaya harganya kembali normal," kata Irman.
(wsn/rvk)











































