Salah satunya adalah Gusmawan (79) yang sudah 6 tahun menjalani profesi sebagai 'manusia cangkul'. Saat bertemu dengan detikcom pada Senin (3/10/2016) kemarin, dia mengaku baru dua hari di Jakarta.
Di Bintaro dia ngontrak di sebuah tempat yang berbeda dengan Rastoni. Harga sewa kontrakannya Rp 80 ribu per bulan. Gusmawan mengaku mau menjadi 'manusia cangkul' di usia senja karena tak mau merepotkan anak dan istri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Enam tahun menjadi 'manusia cangkul', Gusmawan sudah mengalami berbagai suka duka. Orderan pekerjaan sebagai penggali pondasi rumah, galian septick tank, membersihkan got atau menyiangi rumput tak selalu dia dapatkan. "Kadang tiga hari tak dapat orderan," kata dia.
Jika tak adapat orderan, bagaimana dia makan?
"Kalau tidak ada orderan dia makan di warung makan ngutang, nanti kalau dapat orderan baru dibayar," jawab Gusmawan.
Sekali makan, Gusmawan menghabiskan Rp 6000 dengan menu sayur dan lauk tahu atau tempe. Mereka biasanya mendapatkan order
dari warga yang tinggal di perumahan-perumahan di sekitar Bintaro. Sesekali ada pemborong proyek perumahan yang
menggunakan tenaga mereka.
Setiap mendapat orderan dari warga di perumahan, mereka biasanya mendapatkan upah antara Rp 60 sampai Rp 70 ribu per
harinya. Jika orderan itu datang dari proyek mereka bisa dapat lebih, yakni sekitar Rp 90 ribu perhari. (erd/erd)











































