Rel Tua, KA Sumsel Sering Anjlok
Kamis, 31 Mar 2005 17:54 WIB
Palembang - Tampaknya Pemerintah perlu segera mengganti rel kereta api (KA) yang berada di Sumatera Selatan dan Lampung. Sebab sering kali terjadi KA yang melintas, anjlok.Terakhir, Rabu (29/3/2005) dini hari , KA angkutan barang nomor 2735 yang mengangkut kertas, anjlok di Stasiun Kotabumi, Lampung Utara, Lampung. Meskipun tidak ada korban jiwa, sejumlah KA yang hendak melintas di stasiun Kotabumi harus tertunda lima jam.Pengawas Operasional KA Kotabumi, Wasi, saat dihubungi Kamis (31/3/2005) mengatakan, kereta yang anjlok tersebut adalah kereta yang berasal dari Stasiun Niru, Prabumulih, Sumatera Selatan, dengan tujuan Tarahan, Lampung Selatan, Lampung, yang mengangkut kertas milik PT Tanjung Enim Lestari, Muaraenim, Sumsel."KA 2735 anjlok setelah mendekati gerbang Stasiun Kotabumi. Anjloknya kereta tersebut tepat pada gerbong tengah dengan nomor gerbong GGW 506072-1AS dan gerbong nomor GGW 506062-2AS," ujar Wasi.Kejadian itu, kata Wasi, diketahui kru KA 2735 itu sendiri yang saat itu hendak melintas di Stasiun Kotabumi. Mengetahui adanya kejanggalan pada roda kereta digerbong tengah, kru KA 2735 langsung melapor ke pemimpin perjalanan kereta api Kotabumi.Akibatnya kereta penumpang Limex Sriwijaya jurusan Palembang-Lampung terpaksa dihentikan, begitupun keretaapi Babaranjang CC 20213 yang menuju Palembang tertahan di Semboyan VII, Kotabumi. Mereka menunggu selama lima jam. Dan, Wasi mengaku tidak tahu penyebab anjloknya keretaapi tersebut.Sepekan yang lalu, kereta api Babaranjang yang mengangkut batubara dari Tanjungenim menuju Palembang juga mengalami anjlok.Soal anjloknya kereta api itu, tampaknya sudah menjadi sesuatu yang biasa di wilayah Sumatra Selatan dan Lampung. Hampir setiap tiga bulan pasti terjadi keretaapi yang mengalami anjlok.Menurut sumber detikcom yang bekerja di perusahaan kereta api di Palembang, sering anjloknya keretaapi itu sebagai akibat rel kereta yang ada sudah berumur tua."Perlu dilakukan peremajaan rel. Memang biayanya besar, tapi kan kalau dibiarkan sangat berbahaya," katanya.
(nrl/)











































