"Tidak benar. Saya tidak pernah dapat kiriman uang ke rumah," kata Marwah dalam pesan singkatnya kepada detikcom, Minggu (2/10/2016). SMS dikirim pada pukul 15.27 WIB.
Pernyataan ini merespons cerita Junaidi (50), eks pengikut Dimas Kanjeng asal Desa Mimbaan, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo. Junaidi mengaku mendapat cerita dari Ismail Hidayah, eks pengikut yang ditemukan tewas pada Februari 2015 lalu, bahwa uang 2 koper dikirimkan ke rumah Marwah pada malam hari. Uang itu asli, nominalnya miliaran. Setelah uang terkirim, Dimas Kanjeng menghubungi Marwah dan menyatakan ada kiriman uang gaib.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Marwah dalam sesi wawancara pekan lalu, bercerita uang yang dikeluarkan Dimas Kanjeng bukan sembarang barang. Tak bisa dipakai transaksi. Hanya bisa untuk donasi ke masyarakat secara tidak langsung.
"Kalau dipakai belanja, (pemakai) bisa sakit," kata Marwah saat itu. Marwah adalah ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng.
Menurut perempuan bergelar profesor yang jadi pengurus MUI dan ICMI ini, uang yang dihasilkan Dimas Kanjeng rencananya akan digunakan untuk membantu orang tidak mampu, terutama di bidang pendidikan dan fasilitas umum. Rencana belum sempat terwujud, Dimas Kanjeng ditangkap polisi pada 22 September 2016 lalu. Pria bernama asli Taat Pribadi itu kini jadi tersangka kasus pembunuhan eks pengikut, Abdul Gani, dan kasus penipuan.
(try/van)











































