Pemerintah Tidak Akan Beri Kompensasi Korban Flu Burung
Kamis, 31 Mar 2005 17:27 WIB
Solo -
Dirjen Bina Usaha Peternakan Departemen Pertanian (Deptan) Prof Dr Warsito, mengatakan, Pemerintah Pusat tidak akan memberikan kompensasi kepada peternak korban flu burung. Alasannya, kematian unggas tahun ini tidak mewabah seperti tahun lalu. Dia juga menuding ada skenario agar warga takut mengonsumsi unggas dalam negri.Hal tersebut disampaikannya kepada para peternak puyuh di Desa Karangmojo, Klego, Boyolali , Kamis (31/3/2005) sore. Di desa sentra peternak puyuh tersebut, telahterdapat lebih dari 91 ribu ekor puyuh yang mati dalam beberapa pekan terakhir karena terkena wabah penyakit. Angka itu belum termasuk ribuan ayam kampung yang juga mati akibat tertular penyakit.Sebelumnya Warsito juga mendatangi pasar unggas di Semanggi, Solo, serta para peternak di Karanganyar dan Sragen yang juga menderita kerugian besar akibat wabah penyakit.Warsito kepada para peternak mengatakan bahwa musibah kematian unggas tahun ini tidak seberapa besar dibanding musibah tahun lalu yang mewabah di hampirseluruh wilayah di Indonesia. Kejadian tahun lalu, menurutnya, adalah dampak terjadinya perubahan arah migrasi burung karena perubahan iklim global. Sedangkan kejadian tahun disebabkan oleh banyak faktor."Kejadian tahun ini lebih pada kasus per kasus. Peternakan yang berdampingan saja yang satu ternaknya banyak yang mati, sebelahnya semua sehat. Sedangkan kejadian tahun lalu merupakan wabah yang meluas. Karena itu untuk kejadian kali ini Pemerintah Pusat tidak menganggarkan kompensasi bagi peternak yang piaraannya mati terkena penyakit," paparnya.Pada tahun 2004 lalu wabah flu burung mewabah di Boyolali. Catatan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali menyebutkan bahwa hampir satu juta ternak mati menjadi korban. Saat itu kepada peternak Pemerintah memberikan kompensasi Rp 1000 per ekor yang mati, untuk dipergunakan membeli bibit.Skenario Negara TetanggaWarsito bahkan menuding adanya skenario yang dihembus-hembuskan secara rapi oleh negara-negara tetangga. Negara-negara tetangga itu, kata Warsito, menakuti-nakuti tentang bahaya mengomsumsi unggas yang telah terkena, terinfeksi atau tertular flu burung. "Malaysia dan Thailand ini hendak mengelabuhi agar kita mengimpor ternak mereka untuk dikonsumsi," tegasnya."Dari hasil penelitian, secara molekuler penyakit yang menyerang unggas kita berbeda dengan virus flu burung yang menyerang ternah di Hokong, Thailand, Vietnam dan lain-lainnya. Tidak ada flu burung di Indonesia,kecuali di empat kabupaten di Sulawesi Selatan yang memang sudah positif dinyatakan terserang flu burung. Sedangkan di Jawa Tengah ini juga masih sebatas dugaan," kata dia."Saya jamin bahwa daging maupun telur unggas Indonesia aman untuk dikonsumsi. Sejauh ini kekhawatiran itu timbul karena ada yang menakut-nakuti tadi. Selain itu juga dampak dari pemberitaan yang memberikan informasi secara sepotong-sepotong sehingga menimbulkan kesalahpahaman lebih jauh," lanjut Warsito.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































